TINEMU.COM - Banyak yang mengenal "Hysteria" sebagai lagu Muse dengan bassline yang luar biasa khas dan bertenaga.
Bahkan, riff bass-nya telah menjadi bahan pembelajaran wajib bagi pemain bass rock modern.
Namun, membatasi "Hysteria" hanya pada teknis permainan instrumen berarti melewatkan lapisan emosional terdalam dari lagu ini—sesuatu yang justru menjadikan lagu ini begitu manusiawi.
Dirilis sebagai salah satu single dari album Absolution (2003), "Hysteria" bicara soal obsesi, ketergantungan emosional, dan ketidakseimbangan dalam cinta.
Baca Juga: Film Terbaru Garin Nugroho Tayang Eksklusif di HUT RI Ke-80!
Liriknya tidak mengglorifikasi perasaan cinta sebagai sesuatu yang manis atau indah, melainkan menampilkannya sebagai dorongan yang mendesak, mentah, dan kadang menyakitkan.
Ini adalah cinta yang berubah menjadi candu, lalu menjadi kegilaan.
Kalimat pembuka lagu ini—“It’s bugging me, grating me, and twisting me around”—bukan sekadar metafora puitik.
Ia menggambarkan rasa frustrasi mendalam dari seseorang yang merasa tidak bisa mengendalikan apa yang dirasakannya.
Ini bukan tentang cinta yang sehat, melainkan tentang kerinduan yang begitu kuat hingga melukai.
Baca Juga: Kereta Cepat Whoosh Tabrak 10 Biawak Sejak Januari 2025
Ada sensasi bahwa perasaan ini menggerogoti, mengacaukan logika, dan membuat hidup terasa seperti perang batin yang tak ada akhirnya.
Lagu ini juga menyuarakan kerapuhan ego dan keinginan untuk memiliki secara absolut. Baris seperti “I want it now, I want it now, give me your heart and your soul” terdengar seperti teriakan putus asa dari seseorang yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Bukankah kita semua, pada titik tertentu, pernah merasa seperti itu? Ketika hasrat menjadi obsesi, dan cinta kehilangan arah?
Yang membuat "Hysteria" begitu kuat adalah kemampuan Muse untuk membungkus tema rapuh ini dalam kemasan musik yang penuh tenaga dan megah.