TINEMU.COM - Setidaknya ada dua pandangan serius tentang fenomena hadirnya puluhan Remaja Citayam, daerah perbatasan Depok dan Bogor Jawa Barat, di kawasan Dukuh Atas Sudirman, Jakarta.
Pertama, bentuk penyaluran ekspresi diri para Remaja Citayam, di usia mereka yang sedang mekar-mekarnya; Kedua, sebagai bentuk penerimaan realitas ruang-ruang urban pada mereka, para pendatang.
Pertanyaan yang barangkali relevan untuk kedua anggapan di atas adalah imajinasi dan atau situasi kebatinan seperti apa yang menggerakan puluhan Remaja Citayam itu, hingga mereka rela berduyun-duyun dan penuh percaya diri membentuk komunitas serta beraktivitas di kawasan Sudirman?
Baca Juga: Sering Overthinking? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog UGM
Secara kasat mata, kehadiran Remaja Citayam di Sudirman itu sebagai sebuah tindakan yang tidak lebih dari upaya mengkreasi konten media sosial seperti TikTok, Instagram atau YouTube sembari berharap bisa tenar dan dapat untung.
Tapi, di belakang itu, kita bisa meraba gerak-gerik Remaja Citayam sebagai sebuah pesan terselubung akan adanya sesuatu yang barangkali tidak beres di lingkungan terdekat mereka termasuk keluarga, ruang sosial lingkungan mereka, termasuk kehidupan bertetangga dan juga sekolah.
Pandemi tidak hanya membatasi ruang gerak psiko-sosial orang dewasa. Anak-anak dan remaja tampaknya juga menjadi pihak yang harus merasakan dampak mendalam dari pembatasan-pembatasan--dan respons gagap terhadap pembatasan-pembatasan--era pandemi tersebut.
Baca Juga: Lulusan Baru, Ikuti Tips ini untuk Sukses Dapat Kerja!
Jika anggapan tentang faktor pandemi bisa diterima, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika ternyata Remaja Citayam itu akhirnya lebih memilih "lari" ke Jakarta ketimbang ke wilayah-wilayah di dekat rumah mereka?
Mengapa mereka memutuskan berkumpul dengan teman-teman sebayanya, ketimbang berkumpul dengan saudara dan keluarga masing-masing? Apakah kota (Jakarta) diyakini sebagai obat mujarab untuk meringankan segala beban psikologis remaja?
Catatan mungil ini tentu saja tak berpretensi menjawab rentetan tanya di atas. Catatan ini lebih sebagai ungkapan kecurigaan, jangan-jangan remaja Citayam itu memilih naik kereta berangkat ke Jakarta hanya untuk sekadar nongkrong, berfoto-foto dan membuat video, karena di rumah mereka, meminjam lirik lagu Bongkar Iwan Fals, "tak ada lagi yang bisa dipercaya."
Baca Juga: Chairil Anwar: Kematian di Horison dan Kelahiran di Intisari
Jika kecurigaan saya ini terbukti, maka fenomena kerumunan adik-adik Remaja Citayam di Sudirman, dapat diartikan sebagai sebuah respons remaja atas terjadinya gesekan-gesekan bersifat multidimensional remaja dengan keluarga, sahabat, ruang sosial dan bahkan sistem pendidikan di sekolah pasca pandemj, yang alih-alih menyamankan, malah membuat mereka menjadi semakin terasing dan bingung menentukan orientasi masa depan.
Pada akhirnya, kerumunan Remaja Citayam, sebuah daerah yang terletak di perbatasan Depok dan Bogor ke Dukuh Atas Sudirman, boleh jadi adalah sebuah fenomena gunung es di lingkup masyarakat pinggiran kota besar, yang mulai berjuang menata diri usai dilanda pandemi. ***