TINEMU.COM - Soekarno teringat dengan 1955. Sejarah demokrasi di Indonesia ditentukan pemilu berhasil diselenggarakan pada 1955. Tahun selalu teringat saat kita mengartikan pemilu-pemilu selama Orde Baru.
Ingatan makin menguat saat kita menjelang 2024. Soekarno tentu tak sekadar 1955. Ia pun teringat dengan 1954. Di Medan, 28 Oktober 1954, Soekarno berseru: “membina bahasa adalah membina bangsa.”
Ia memulai memberi ingatan dan penjelasan: “Sedjarah jang membuat bumi Indonesia kadang-kadang mendjadi merah oleh karena bumi itu tersiram oleh darah pemuda-pemuda kita dan rakjat djelata."
Baca Juga: Inilah Konsep dan Metode Membaca Mushaf Al-Qur’an Isyarat
Selanjutnya, "Sedjarah jang membawa pemimpin kita kedalam pendjara-pendjara, kedalam pembuangan-pembuangan, sedjarah jang didjalankan oleh segenap bangsa Indonesia walaupun dengan kepahitan dan kesedihan, tetapi dengan hati jang besar, hati jang penuh harapan, hati jang menudju kepada satu tjahaja jang gilang-gemilang jaitu terbawanja kembali bangsa Indonesia jang merdeka dan berdaulat.”
Sejarah itu terlalu penting sebelum tergesa membicarakan bahasa Indonesia. Babak-babak sejarah dianggap Soekarno menentukan Indonesia berdaulat, termasuk (sejarah) bahasa Indonesia. Ia mengingat tanggal keramat: 28 Oktober 1928.
Soekarno menghendaki bahasa Indonesia turut menggerakkan revolusi. Bahasa Indonesia menjadikan sejarah mewujud. Soekarno memastikan sejarah Indonesia itu sejarah bahasa Indonesia meski ia sulit mencari kata untuk menjelaskan di hadapan orang-orang.
Baca Juga: Mengenal Mushaf Al-Qur’an Isyarat untuk Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara
Ia terpaksa menggunakan bahasa asing: “nation building”. Omongan gamblang: “Membina bahasa, membangun bahasa untuk meletakkan djembatan emas dan melalui djembatan emas itu.” Ikhtiar memberi kekuatan bahasa Indonesia saat Indonesia ingin menjadi negara terhormat.
Tantangan diajukan: “Apakah kamu duduk sebagai sekedar ahli tata bahasa sadja, ahli istilah-istilah sadja. Tetapi, apakah kamu sekalian merasa dirimu itu satu bahagian dari bangsa Indonesia jang berdjuang, ‘nation building’ tadi?”
Kita mengerti maksud tantangan Soekarno. Bahasa Indonesia terlarang lembek. Orang-orang wajib bergairah menggerakkan bahasa Indonesia. Seruan Soekarno itu terdapat dalam majalah Medan Bahasa edisi November-Desember 1954.
Baca Juga: Dua Pesawat Tempur Super Tucano TNI AU Jatuh di Pasuruan
Puluhan tahun silam, Soekarno sudah memikirkan dan menggerakkan bahasa Indonesia, sebelum 1954. Ia teringat kemauan memajukkan bahasa Indonesia pada 1926, bukan melalui Kongres Pemuda I.
Di buku susunan C Adams berjudul Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (1966), kita membaca pengakuan: “Ditahun 1926 aku mulai mengchotbahkan nasionalisme terpimpin.
Lalu sambungnya, "Sebelum itu aku hanja memberikan kepada pendengarku kesadaran nasional lebih banjak daripada jang mereka ketahui sebelumnja. Sekarang aku tidak sadja mengojak-ojak mereka untuk bangun, akan tetapi aku memimpin mereka."
Artikel Terkait
Rajamangsa, Makanan Kaum Elit Jawa Zaman Dulu
Tak Bisa Dibayangkan Kelezatan Masakan Jawa Kuno
Kereta: Cerita dan Berita
Begini Caranya Beragam Jenis Ikan Diolah Pada Zaman Nusantara Dulu
Bahasa Indonesia: Tulisan (Lama) dan (Perubahan) Judul