TINEMU.COM - Keluhan-keluhan menghasilkan kongres. Kita jangan mengartikan kongres itu pesta, makan, atau hiburan.
Sejak awal abad XX, kongres-kongres diadakan di tanah jajahan dipastikan serius dan tegang.
Kongres menghadirkan orang-orang dengan beragam pemikiran. Di kongres, mereka berdebat untuk membuat keputusan-keputusan.
Pada suatu masa, kongres diselenggarakan setelah jumlah keluhan bertambah.
Kita mengutip latar belakang Kongres Bahasa Jawa I (1991) sesuai proseding diadakan pemerintah daerah Jawa Tengah: “Dalam kurun waktu beberapa dasawarsa abad XX ini telah banyak dikeluhkan bahwa bahasa Jawa mengalami kemerosotan dan kemunduran.”
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)
Kalimat itu masih lumrah berulang pada abad XXI. Keluhan-keluhan belum usai. Selama seabad, keluhan belum mendapat jawaban mujarab.
Seribu keluhan tak boleh dibiarkan menjadi dosa bersama. Pihak pemerintah lekas menanggapi dengan mengadakan Kongres Bahasa Jawa I, Semarang, 15-20 Juli 1991.
Penjelasan: “… merupakan kongres bahasa Jawa yang pertama yang tidak hanya bersifat nasional bahkan internasional karena diikuti oleh para ahli dan peminat, baik dari dalam negeri maupun oleh para ahli dari pusat-pusat studi bahasa Jawa dari luar negeri.”
Keluhan dijawab dengan kongres bersifat internasional. Jawaban mungkin berlebihan.
Kongres itu bersejarah. Kongres dilestarikan melalui penerbitan buku-buku.
Baca Juga: Indonesia dan Mikrofon
Pihak pembuat buku menerangkan tujuan: “Agar peristiwa yang dapat dinilai bersifat monumental itu tidak sekadar menjadi kenangan yang akhirnya akan hilang ditelan waktu…”
Kerja membuat buku-buku berfaedah bagi kita saat menantikan terbitan buku-buku setelah Kongres Bahasa Jawa VII, 28-30 November 2023, diadakan di hotel dekat Solo.
Foto-foto selama kongres sudah beredar di media sosial. Kita bukan peserta atau pembicara dalam kongres berharap kelak membaca buku-buku bersumber Kongres Bahasa Jawa VII.
Artikel Terkait
1930, Tahun Penting Dunia Jazz
152 Benda Bersejarah Tampil di Pameran REPATRIASI: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara
Surealisme Prancis: Mencari Kebebasan di Dunia Puisi
Indonesia dan Mikrofon