Bahasa Jawa: Kongres dan Keluhan

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 1 Desember 2023 | 10:00 WIB
Ilustrasi Pakaian Adat Jawa (Playground AI)
Ilustrasi Pakaian Adat Jawa (Playground AI)

TINEMU.COM - Keluhan-keluhan menghasilkan kongres. Kita jangan mengartikan kongres itu pesta, makan, atau hiburan.

Sejak awal abad XX, kongres-kongres diadakan di tanah jajahan dipastikan serius dan tegang.

Kongres menghadirkan orang-orang dengan beragam pemikiran. Di kongres, mereka berdebat untuk membuat keputusan-keputusan.

Pada suatu masa, kongres diselenggarakan setelah jumlah keluhan bertambah.

Kita mengutip latar belakang Kongres Bahasa Jawa I (1991) sesuai proseding diadakan pemerintah daerah Jawa Tengah: “Dalam kurun waktu beberapa dasawarsa abad XX ini telah banyak dikeluhkan bahwa bahasa Jawa mengalami kemerosotan dan kemunduran.”

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)

Kalimat itu masih lumrah berulang pada abad XXI. Keluhan-keluhan belum usai. Selama seabad, keluhan belum mendapat jawaban mujarab.

Seribu keluhan tak boleh dibiarkan menjadi dosa bersama. Pihak pemerintah lekas menanggapi dengan mengadakan Kongres Bahasa Jawa I, Semarang, 15-20 Juli 1991.

Penjelasan: “… merupakan kongres bahasa Jawa yang pertama yang tidak hanya bersifat nasional bahkan internasional karena diikuti oleh para ahli dan peminat, baik dari dalam negeri maupun oleh para ahli dari pusat-pusat studi bahasa Jawa dari luar negeri.”

Keluhan dijawab dengan kongres bersifat internasional. Jawaban mungkin berlebihan.

Kongres itu bersejarah. Kongres dilestarikan melalui penerbitan buku-buku.

Baca Juga: Indonesia dan Mikrofon

Pihak pembuat buku menerangkan tujuan: “Agar peristiwa yang dapat dinilai bersifat monumental itu tidak sekadar menjadi kenangan yang akhirnya akan hilang ditelan waktu…”

Kerja membuat buku-buku berfaedah bagi kita saat menantikan terbitan buku-buku setelah Kongres Bahasa Jawa VII, 28-30 November 2023, diadakan di hotel dekat Solo.

Foto-foto selama kongres sudah beredar di media sosial. Kita bukan peserta atau pembicara dalam kongres berharap kelak membaca buku-buku bersumber Kongres Bahasa Jawa VII.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

1930, Tahun Penting Dunia Jazz

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X