Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Jumat, 1 Desember 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - Melihat musuh mengejar keluar, kontan ia menusuk pula. Menghadapi ilmu pedang asli Siau-lim-si yang lihai itu, Yang Thian-lui juga tidak berani pandang enteng lawannya.

Tiba-tiba ia gunakan tenaga jari dan menyelentik batang pedang Li Su-lam. Thian-lui-kang adalah pukulan yang maha dahsyat, tenaga yang dikeluarkan melalui jarinya tentu saja luar biasa kuatnya.

“Creng.”

Tangan Su-lam terasa pegal dan hampir-hampir tak mampu memegangi pedangnya, cepat ia melompat mundur beberapa langkah.

Baca Juga: Bahasa Jawa Relatif Rentan, Balai Bahasa Jateng Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu

Kalau Li Su-lam terkejut oleh kelihaian musuh, sebaliknya Yang Thian-lui juga tidak kurang kagetnya karena selentikannya itu tidak berhasil menjatuhkan pedang lawan. Baru sekarang ia mau percaya kepandaian Li Su-lam memang lihai, pantas Kian-pek bukan tandingannya.

Melihat Su-lam tidak sanggup menghadapi lawannya, cepat Nyo Wan maju membantu.

"Kalian masih ada berapa orang begundal, keluar saja semua!” jengek Yang Thian-hui.

Berbareng dengan itu tangannya memukul ke kanan dan kekiri sehingga Su-lam dan Nyo Wan dipaksa melompat mundur pula.

Sementara itu Pek Ban-hiong juga sudah berhasil membekuk Tubukan dan menyusul keluar. Sedang Pek Jian-seng masih tinggal didalam rumah untuk melindungi Sia It-tiong yang hendak menanyai Subutai berdua.

Baca Juga: Karya-Karya Kontroversial William S. Burroughs

Sebagai murid Bu-siang Sin-ni dari Gobipay, dengan sendirinya ilmu pedang Nyo Wan juga tidak lemah. Cuma sayang tenaganya kurang kuat, untuk melawan tenaga pukulan Thian-lui-kang yang dahsyat memang tidak memadai.

Syukur dengan ginkangnya yang gesit dan lincah ia dapat menghindari damparan tenaga pukulan lawan, sedang Li Su-lam juga menyerang dengan mati-matian sehingga terpaksa Yang Thian-lui harus memusatkan sebagian besar perhatiannya untuk melayani Li Su-lam.

Namun begitu, setelah dua tiga puluh gebrakan lagi, lamban laun napas Su-lam terasa sesak dan dada terasa sakit, nyata daya tekanan Thian-lui-kang memang luar biasa.

Melihat kemenangan sudah pasti berada di pihak Yang Thian-lui, Pek Ban-hiong merasa kebetulan baginya untuk menonton saja disamping. Malahan ia lantas mengejek: “Mana kalian mampu menandingi Yang-koksu yang tiada tandingannya di kolong langit ini, lebih baik kalian lekas menyerah saja!”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X