TINEMU.COM - Melihat musuh mengejar keluar, kontan ia menusuk pula. Menghadapi ilmu pedang asli Siau-lim-si yang lihai itu, Yang Thian-lui juga tidak berani pandang enteng lawannya.
Tiba-tiba ia gunakan tenaga jari dan menyelentik batang pedang Li Su-lam. Thian-lui-kang adalah pukulan yang maha dahsyat, tenaga yang dikeluarkan melalui jarinya tentu saja luar biasa kuatnya.
“Creng.”
Tangan Su-lam terasa pegal dan hampir-hampir tak mampu memegangi pedangnya, cepat ia melompat mundur beberapa langkah.
Baca Juga: Bahasa Jawa Relatif Rentan, Balai Bahasa Jateng Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu
Kalau Li Su-lam terkejut oleh kelihaian musuh, sebaliknya Yang Thian-lui juga tidak kurang kagetnya karena selentikannya itu tidak berhasil menjatuhkan pedang lawan. Baru sekarang ia mau percaya kepandaian Li Su-lam memang lihai, pantas Kian-pek bukan tandingannya.
Melihat Su-lam tidak sanggup menghadapi lawannya, cepat Nyo Wan maju membantu.
"Kalian masih ada berapa orang begundal, keluar saja semua!” jengek Yang Thian-hui.
Berbareng dengan itu tangannya memukul ke kanan dan kekiri sehingga Su-lam dan Nyo Wan dipaksa melompat mundur pula.
Sementara itu Pek Ban-hiong juga sudah berhasil membekuk Tubukan dan menyusul keluar. Sedang Pek Jian-seng masih tinggal didalam rumah untuk melindungi Sia It-tiong yang hendak menanyai Subutai berdua.
Baca Juga: Karya-Karya Kontroversial William S. Burroughs
Sebagai murid Bu-siang Sin-ni dari Gobipay, dengan sendirinya ilmu pedang Nyo Wan juga tidak lemah. Cuma sayang tenaganya kurang kuat, untuk melawan tenaga pukulan Thian-lui-kang yang dahsyat memang tidak memadai.
Syukur dengan ginkangnya yang gesit dan lincah ia dapat menghindari damparan tenaga pukulan lawan, sedang Li Su-lam juga menyerang dengan mati-matian sehingga terpaksa Yang Thian-lui harus memusatkan sebagian besar perhatiannya untuk melayani Li Su-lam.
Namun begitu, setelah dua tiga puluh gebrakan lagi, lamban laun napas Su-lam terasa sesak dan dada terasa sakit, nyata daya tekanan Thian-lui-kang memang luar biasa.
Melihat kemenangan sudah pasti berada di pihak Yang Thian-lui, Pek Ban-hiong merasa kebetulan baginya untuk menonton saja disamping. Malahan ia lantas mengejek: “Mana kalian mampu menandingi Yang-koksu yang tiada tandingannya di kolong langit ini, lebih baik kalian lekas menyerah saja!”
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (257)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (258)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (259)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (260)