100 Tahun Kitab Vortaro

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Jumat, 22 Desember 2023 | 10:29 WIB
Kitab Vortaro (Bandung Mawardi)
Kitab Vortaro (Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Pada awal abad XX, pemuda Jawa tinggal di Solo menemukan kata baru. Ia bisa membaca dan menulis setelah belajar di sekolah.

Perjumpaan dengan dunia melalui bacaan. Ia mengetahui bacaan berhuruf Latin dan Jawa. Pada suatu hari, ia membaca surat kabar.

Kemodernan dimengerti melalui berita atau artikel. Di situ, ia menemukan kata baru: nikotin. Kata berkaitan dengan rokok.

Pemuda dan kata baru itu diceritakan dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda.

Novel memuat masalah-masalah pers di tanah jajahan: berbahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Novel mengandung gagasan baru tentang pekerjaan dan identitas.

Baca Juga: Double Win Deals, KAI Sebar Suvenir dan Railpoint untuk Penumpang Kereta Selama Libur Nataru

Kita cuma ingin mengingat penemuan “nikotin” dalam surat kabar. Dulu, beragam surat kabar mengantar ratusan kata atau istilah baru bagi pembaca.

Bahasa berkembang dalam arus industri pers.

Pada 1923, terbit Kitab Vortaro. Buku berukuran kecil diterbitkan Sin Po. Pada masa lalu, Sin Po termasuk surat kabar terkenal dan terlaris.

Sin Po tercatat dalam sejarah pers dan pergerakan politik di Indonesia. Kitab Vortaro atau kamus kecil itu disusun oleh D Kwik.

Kini, kita mengetahui Kitab Vortaro berusia 100 tahun. Kitab masih bisa terbaca berbarengan kita mengamati perkembangan kata dalam pers dan politik di Indonesia.

Baca Juga: AHM Umumkan Harga Sepeda Motor Listrik Honda EM1 e: dan EM1 e: PLUS

Para pembaca Sin Po sering menemukan kata-kata baru. Pihak redaksi memerlukan penerbitan kamus agar pembaca mendapat kemudahan dalam mengetahui pengertian-pengertian.

Semula, Kitab Vortaro diterbitkan untuk para pembaca Sin Po tapi lekas menjadi kitab tergunakan oleh umum.

Kwik menjelaskan: “Soerat-soerat kabar Melajoe, boekan sadja moewat kabar-kabaran, tjerita-tjerita, segala oeroesan politiek negri…”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X