TINEMU.COM - Pada awal abad XX, pemuda Jawa tinggal di Solo menemukan kata baru. Ia bisa membaca dan menulis setelah belajar di sekolah.
Perjumpaan dengan dunia melalui bacaan. Ia mengetahui bacaan berhuruf Latin dan Jawa. Pada suatu hari, ia membaca surat kabar.
Kemodernan dimengerti melalui berita atau artikel. Di situ, ia menemukan kata baru: nikotin. Kata berkaitan dengan rokok.
Pemuda dan kata baru itu diceritakan dalam novel berjudul Kirti Njunjung Drajat (1924) gubahan Jasawidagda.
Novel memuat masalah-masalah pers di tanah jajahan: berbahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Novel mengandung gagasan baru tentang pekerjaan dan identitas.
Baca Juga: Double Win Deals, KAI Sebar Suvenir dan Railpoint untuk Penumpang Kereta Selama Libur Nataru
Kita cuma ingin mengingat penemuan “nikotin” dalam surat kabar. Dulu, beragam surat kabar mengantar ratusan kata atau istilah baru bagi pembaca.
Bahasa berkembang dalam arus industri pers.
Pada 1923, terbit Kitab Vortaro. Buku berukuran kecil diterbitkan Sin Po. Pada masa lalu, Sin Po termasuk surat kabar terkenal dan terlaris.
Sin Po tercatat dalam sejarah pers dan pergerakan politik di Indonesia. Kitab Vortaro atau kamus kecil itu disusun oleh D Kwik.
Kini, kita mengetahui Kitab Vortaro berusia 100 tahun. Kitab masih bisa terbaca berbarengan kita mengamati perkembangan kata dalam pers dan politik di Indonesia.
Baca Juga: AHM Umumkan Harga Sepeda Motor Listrik Honda EM1 e: dan EM1 e: PLUS
Para pembaca Sin Po sering menemukan kata-kata baru. Pihak redaksi memerlukan penerbitan kamus agar pembaca mendapat kemudahan dalam mengetahui pengertian-pengertian.
Semula, Kitab Vortaro diterbitkan untuk para pembaca Sin Po tapi lekas menjadi kitab tergunakan oleh umum.
Kwik menjelaskan: “Soerat-soerat kabar Melajoe, boekan sadja moewat kabar-kabaran, tjerita-tjerita, segala oeroesan politiek negri…”
Artikel Terkait
Henry Padovani Tidak Menyesal Keluar dari The Police!
100 Tahun Miriam Budiardjo (1923-2023): Buku dan Pemilu
Paul McCartney Sempat Ogah Jadi Pemain Bas The Beatles!