TINEMU.COM - Kota-kota besar menjadi tempat terpilih bagi misi-misi besar dalam percetakan atau penerbitan.
Batavia, kota penting dalam sejarah penerbitan buku dan pers. Semarang, kota tercatat memiliki beragam terbitan sejak awal abad XX.
Solo dan Jogjakarta pun memiliki peran dalam pembesaran dampak mesin cetak dan konsekuensi keaksaraan dari kemunculan puluhan penerbit.
Bandung dan Surabaya tak boleh dilupakan dalam kerja-kerja besar keaksaraan di tanah jajahan.
Di Sumatra, sekian kota menjadi acuan dalam peredaran buku dan surat kabar untuk agenda-agenda kemajuan atau modernitas.
Baca Juga: Bahasa Indonesia “Terkembang”
Di pelbagai kota, percetakan dan penerbit turut dalam arus sejarah. Kita mengenang sebagai sejarah bergelimang huruf.
Di Temanggung, kita pun memiliki babak sejarah penting. Kota itu tercatat dalam penerbitan Hollandsch-Maleisch Zakwoordenboekje susunan DM Kroes-Verhoog dan ALB H Kroes.
Di halaman judul, kita membaca keterangan: “Temanggoeng 1923”. Di halaman pengantar, kita membaca: “Banjoemas 1911”.
Kamus itu pernah mengalami cetak ulang. Sekian keterangan teracantum dalam terbitan: “Tegal 1913”, “Tegal 1920”, dan “Temanggoeng 1923”.
Baca Juga: 100 Tahun Kitab Vortaro
Kita masih bisa memegang edisi terbitan 1923. Kamus kecil dan tebal berusia 100 tahun. Kamus dalam kondisi agak rusak tapi masih terbaca.
Kamus belum mau punah meski orang-orang sering mengingat kamus-kamus “babon” atau “otoritatif” terbit di kota-kota besar.
Cetak ulang mengartikan kamus kecil itu dibutuhkan orang-orang. Kamus sebagai pegangan untuk mengetahui kata dan pengertian.
Pada masa lalu, keinginan belajar bahasa Belanda dan Melayu menentukan corak zaman. Sekolah-sekolah dan terbitan bacaan memicu orang-orang paham bahasa-bahasa.
Artikel Terkait
Kemendikbudristek Restorasi Fim Kolosal ‘Dr. Samsi’ Produksi 1952
100 Tahun Miriam Budiardjo (1923-2023): Buku dan Pemilu
100 Tahun Kitab Vortaro