27 Januari 1970: Sekularisasi dan Sakral

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Sabtu, 27 Januari 2024 | 08:08 WIB
Alm. Nurcholis Madjid (Wikipedia)
Alm. Nurcholis Madjid (Wikipedia)

TINEMU.COM - Pada masa lalu, Nurcholis Madjid membuat gegeran menggunakan istilah sekularisasi.

Ia mengucapkan dalam ceramah dan mencantumkan dalam tulisan. Orang-orang “terbakar” untuk lekas menanggapi: menolak atau menerima.

Para ulama dan intelektual sibuk memahami istilah-istilah (asing). Mereka menata lagi alur hidup keberagamaan di Indonesia.

Pengamatan atas Indonesia masa 1960-an dan 1970-an dan masa depan.

Sekularisasi ditanggapi kemunculan puluhan istilah dalam beragam bahasa. Debat agama di Indonesia ramai istilah.

Orang-orang diharuskan membuka kamus dan ensiklopedia agar tak salah atau kebingungan.

Baca Juga: 26 Januari 1971: Pengarang, Novel, Penerbit

Pada masa lalu, penggunaan istilah-istilah menjelaskan latar belakang pendidikan dan sosial-kultural.

Ahmad Wahib tak bisa diam. Ia membuka buku dan menulis: 27 Januari 1970. Ia berpikir serius: “Desakralisasi. Apakah istilah ini sudah tepat sebagai sinonim dari sekularisasi? Aku ragu.”

Ia suka membaca buku, berada dalam pergaulan intelektual. Ragu itu bermutu. Di Jogjakarta, ia mengerti beragam ide-ide berasal dari Jakarta cepat menular.

Para tokoh di Jakarta dan Jogjakarta lekas bereaksi setelah Nurcholis Madjid mewartakan pemikiran-pemikiran.

Reaksi bermunculan dalam pengajian dan diskusi. Tulisan-tulisan pun bergantian terbit di majalah dan koran.

Baca Juga: Ben Affleck dan Matt Damon Kembali Berkolaborasi

Debat menandakan gairah pemikiran keagamaan di Indonesia. Tulisan-tulisan dipicu sekularisasi masih bisa dilacak sebagai dokumentasi zaman.

Ahmad Wahib pun bereaksi melalui catatan harian.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X