TINEMU.COM - Pada masa lalu, Nurcholis Madjid membuat gegeran menggunakan istilah sekularisasi.
Ia mengucapkan dalam ceramah dan mencantumkan dalam tulisan. Orang-orang “terbakar” untuk lekas menanggapi: menolak atau menerima.
Para ulama dan intelektual sibuk memahami istilah-istilah (asing). Mereka menata lagi alur hidup keberagamaan di Indonesia.
Pengamatan atas Indonesia masa 1960-an dan 1970-an dan masa depan.
Sekularisasi ditanggapi kemunculan puluhan istilah dalam beragam bahasa. Debat agama di Indonesia ramai istilah.
Orang-orang diharuskan membuka kamus dan ensiklopedia agar tak salah atau kebingungan.
Baca Juga: 26 Januari 1971: Pengarang, Novel, Penerbit
Pada masa lalu, penggunaan istilah-istilah menjelaskan latar belakang pendidikan dan sosial-kultural.
Ahmad Wahib tak bisa diam. Ia membuka buku dan menulis: 27 Januari 1970. Ia berpikir serius: “Desakralisasi. Apakah istilah ini sudah tepat sebagai sinonim dari sekularisasi? Aku ragu.”
Ia suka membaca buku, berada dalam pergaulan intelektual. Ragu itu bermutu. Di Jogjakarta, ia mengerti beragam ide-ide berasal dari Jakarta cepat menular.
Para tokoh di Jakarta dan Jogjakarta lekas bereaksi setelah Nurcholis Madjid mewartakan pemikiran-pemikiran.
Reaksi bermunculan dalam pengajian dan diskusi. Tulisan-tulisan pun bergantian terbit di majalah dan koran.
Baca Juga: Ben Affleck dan Matt Damon Kembali Berkolaborasi
Debat menandakan gairah pemikiran keagamaan di Indonesia. Tulisan-tulisan dipicu sekularisasi masih bisa dilacak sebagai dokumentasi zaman.
Ahmad Wahib pun bereaksi melalui catatan harian.
Artikel Terkait
24 Januari 1972: Soekarno dan Soeharto
25 Januari 1990: Penerbit, Rumah, Lekra
26 Januari 1971: Pengarang, Novel, Penerbit