Matematika dan Demokrasi

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 13 Februari 2024 | 09:20 WIB
Buku New Mathematics (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku New Mathematics (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COMMatematika berguna dalam demokrasi. Kita tak perlu mencari tokoh-tokoh politik suka membual demokrasi itu ahli matematika atau memiliki nilai tinggi selama belajar di sekolah.

Mereka mengerti matematika bukan sebagai pelajaran. Matematika ditaruh dalam modal dan kekuasaan.

Kita agak mengerti demokrasi menjadi amalan matematika dalam misi keuntungan dan kemenangan.

Pada suatu hari, jutaan orang mendatangi pelbagai tempat. Mereka dalam hari coblosan.

Kertas-kertas dicoblos dengan paku. Konon, kertas-kertas itu penting dalam penghitungan suara atas nama demokrasi.

Baca Juga: Ditemukan Membusuk, Paus Sperma Sepanjang 15 Meter Terdampar di Biak Numfor

Kita mengetahui “penghitungan” berkaitan matematika. Di undang-undang, penghitungan itu menetapi ketentuan demokrasi, bukan mata pelajaran sering membuat murid-murid berkeringat dan ketakutan.

Kita pun mengingat matematika menentukan lakon revolusi atau demokratisasi di Indonesia, sejak puluhan tahun lalu.

Pada 1970, terbit buku berjudul New Mathematics (Matematika Modern) di Sekolah Dasar susunan Oejeng Soewargana. Buku tipis diterbitkan Sanggabuwana, Bandung-Jakarta.

Kita membuka halaman-halaman buku, terselip surat atas nama Nj Oejeng Soewargana. Surat untuk “para sardjana dan para ahli dalam semua bidang mata peladjaran.”

Baca Juga: Cakra Khan Rilis Album Kedua Setelah 11 Tahun

Surat berisi anjuran bagi semua pihak bila memerlukan serial buku pelajaran bisa menghubungi Ganaco, Masa Baru, dan Sanggabuwana.

Tiga nama penerbit dalam satu naungan. Penjelasan: “Kami selalu berusahan untuk mentjari dan mengumpulkan bahan jang terbaru…” Buku-buku dijanjikan aktual atau sesuai perkembangan pengetahuan di dunia.

Kita diminta menerima janji dan membuktikan sendiri. Oejeng Soewargana menjelaskan maksud pembuatan buku dibenarkan oleh kehendak menteri dan kebutuhan di jagat pendidikan.

Ia memerlukan mengutip tulisan di majalah Varia, 8 April 1970: “buku baru ibarat traktor, buku lama ibarat tjangkul.”

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Pelajaran dan Tolol

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X