Pepatah Belum Punah

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 19 Maret 2024 | 22:04 WIB
Buku 500 Pepatah karya Aman terbitan Balai Pustaka (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku 500 Pepatah karya Aman terbitan Balai Pustaka (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COMPepatah itu milik kaum lama atau kaum kuno. Pada masa lalu, pepatah-pepatah diakui penting dan berkhasiat.

Tatanan kata berhikmah. Kalimat-kalimat kadang merdu saat terdengar. Kita pepatah-pepatah itu diucapkan dalam beragam peristiwa.

Pada kemunculan mesin cetak, sekolah “modern”, dan dokumentasi peradaban, pepatah-pepatah itu tulisan.

Ratusan atau ribuan pepatah menghuni buku-buku. Di surat kabar, pepatah kadang tercantum. Merdu tak lagi mutlak.

Pepatah di hadapan mata menjadi bacaan. Buku-buku terbuka menjadikan orang membaca dan merenung. Pepatah-pepatah itu tulisan.

Baca Juga: LightsOut Rilis Lagu Baru Maret 2024

Di tatanan hidup modern, orang-orang perlahan meninggalkan dan melupakan pepatah.

Mereka mengalami hidup dengan bahasa dan pengucapan berbeda dari babak para leluhur. Pepatah tak musnah.

Di sekolah-sekolah, pepatah masih masuk dalam pelajaran. Di desa atau kampung, orang-orang masih memelihara pepatah meski mengerti terjadi kepudaran.

Tuduhan sering disampaikan: pepatah itu kuno. Orang-orang beranggapan pepatah-pepatah bakal tertinggal dan berjatuhan gara-gara tak lagi sesuai zaman.

Di lakon hidup rumit, pepatah sekadar ajakan ke masa silam. Pepatah dianggap citarasa kelawasan masih mungkin dimengerti jika ingin bermasa lalu.

Baca Juga: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, KAI Hadirkan Diskon Hingga 30% Bagi Agen Travel

Pada 1972, Taufiq Ismail masih mementingkan pepatah. Ia memiliki referensi tradisional untuk digarap atau dihadirkan lagi berselera baru.

Sosok tenar berlatar sastra dan politik 1965 itu menulis “Pepatah Petitih Baru”. Kita membaca sambil tertawa, sebal, atau terkejut.

Pepatah itu tulisan. Kita mengutip: Gajah di seberang lautan tak tampak/ Kuman di pelupuk mata juga tak tampak.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Kemajuan dan Hasil Bumi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X