TINEMU.COM - Pepatah itu milik kaum lama atau kaum kuno. Pada masa lalu, pepatah-pepatah diakui penting dan berkhasiat.
Tatanan kata berhikmah. Kalimat-kalimat kadang merdu saat terdengar. Kita pepatah-pepatah itu diucapkan dalam beragam peristiwa.
Pada kemunculan mesin cetak, sekolah “modern”, dan dokumentasi peradaban, pepatah-pepatah itu tulisan.
Ratusan atau ribuan pepatah menghuni buku-buku. Di surat kabar, pepatah kadang tercantum. Merdu tak lagi mutlak.
Pepatah di hadapan mata menjadi bacaan. Buku-buku terbuka menjadikan orang membaca dan merenung. Pepatah-pepatah itu tulisan.
Baca Juga: LightsOut Rilis Lagu Baru Maret 2024
Di tatanan hidup modern, orang-orang perlahan meninggalkan dan melupakan pepatah.
Mereka mengalami hidup dengan bahasa dan pengucapan berbeda dari babak para leluhur. Pepatah tak musnah.
Di sekolah-sekolah, pepatah masih masuk dalam pelajaran. Di desa atau kampung, orang-orang masih memelihara pepatah meski mengerti terjadi kepudaran.
Tuduhan sering disampaikan: pepatah itu kuno. Orang-orang beranggapan pepatah-pepatah bakal tertinggal dan berjatuhan gara-gara tak lagi sesuai zaman.
Di lakon hidup rumit, pepatah sekadar ajakan ke masa silam. Pepatah dianggap citarasa kelawasan masih mungkin dimengerti jika ingin bermasa lalu.
Baca Juga: Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, KAI Hadirkan Diskon Hingga 30% Bagi Agen Travel
Pada 1972, Taufiq Ismail masih mementingkan pepatah. Ia memiliki referensi tradisional untuk digarap atau dihadirkan lagi berselera baru.
Sosok tenar berlatar sastra dan politik 1965 itu menulis “Pepatah Petitih Baru”. Kita membaca sambil tertawa, sebal, atau terkejut.
Pepatah itu tulisan. Kita mengutip: Gajah di seberang lautan tak tampak/ Kuman di pelupuk mata juga tak tampak.
Artikel Terkait
Kemajuan dan Hasil Bumi
Sepur, Pesawat, Rambutan
William Adams: Dari Inggris ke Jepang, Menjadi Seorang Samurai
Penerangan dan Ketimpangan