TINEMU.COM - Kerajaan Majapahit, yang berdiri pada akhir abad ke-13 hingga abad ke-16 di Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Selain kejayaannya dalam politik, perdagangan, dan budaya, Majapahit juga menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam pengelolaan sumber daya air melalui sistem pengairan yang maju untuk zamannya.
Sistem ini tidak hanya mendukung pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga mencerminkan keseimbangan antara teknologi, kebutuhan masyarakat, dan harmoni dengan lingkungan.
Dasar Sistem Pengairan Majapahit
Pertanian sawah menjadi pilar utama kehidupan masyarakat Majapahit, dengan padi sebagai komoditas utama. Untuk mendukung pertanian basah ini, diperlukan pasokan air yang konsisten dan terkontrol.
Baca Juga: Alam dan Iman
Majapahit mengembangkan infrastruktur pengairan yang terdiri dari waduk, kanal, kolam, saluran air, dan bahkan gorong-gorong.
Sistem ini dirancang untuk mengalirkan air dari sumber alami seperti sungai ke lahan pertanian, menyimpan cadangan air saat musim kemarau, serta mencegah banjir pada musim hujan.
Bukti arkeologi di situs Trowulan, yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit, menunjukkan jejak-jejak bangunan air yang terencana dengan baik.
Baca Juga: Raga dan Selasa
Salah satu elemen kunci adalah pembangunan waduk. Penelitian arkeologi mengidentifikasi sekitar 20 waduk kuno di wilayah sekitar Trowulan, seperti Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, dan Kraton.
Waduk-waduk ini tersebar di dataran utara pegunungan Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno, menunjukkan pemahaman mendalam tentang topografi dan hidrologi.
Waduk Baureno, misalnya, merupakan yang terbesar dan terletak strategis di dekat pertemuan Kali Boro dan Kali Landean, berfungsi sebagai penampung air utama.
Infrastruktur dan Teknologi
Selain waduk, Majapahit membangun kolam buatan seperti Kolam Segaran, Balong Bunder, dan Balong Dowo di Trowulan. Kolam Segaran, yang ditemukan oleh arkeolog Maclaine Pont pada 1926, adalah yang paling monumental dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter.
Dindingnya terbuat dari bata tanpa perekat, menunjukkan keahlian konstruksi yang tinggi. Kolam ini terhubung dengan saluran masuk dan keluar yang mengalirkan air ke kolam lain, menciptakan sistem distribusi air yang efisien.
Baca Juga: Berdering dan Kesepian
Kanal-kanal juga menjadi bagian integral dari sistem pengairan Majapahit. Kanal-kanal besar, seperti yang ditemukan di daerah Kedaton dengan lebar 26 meter, diperkuat tanggul bata.
Kanal ini tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga diduga digunakan sebagai jalur transportasi perahu kecil, menunjukkan multifungsi infrastruktur air. Saluran-saluran kecil dan gorong-gorong dari bata atau pipa terakota melengkapi jaringan ini, menyalurkan air hingga ke pemukiman dan lahan pertanian.
Fungsi dan Keselarasan dengan Alam
Sistem pengairan Majapahit memiliki tiga fungsi utama: irigasi, pengendalian banjir, dan sanitasi. Irigasi memastikan sawah tetap subur sepanjang tahun, mendukung produksi padi yang melimpah.
Pengendalian banjir dilakukan dengan mengalirkan kelebihan air ke waduk atau kanal, mencegah kerusakan lahan. Sanitasi tercermin dari saluran air di pemukiman, yang menunjukkan kesadaran tinggi terhadap kebersihan lingkungan.
Keunggulan sistem ini terletak pada keselarasannya dengan alam. Majapahit memanfaatkan kontur alam, seperti lereng gunung dan aliran sungai, untuk mengarahkan air secara gravitasi tanpa memerlukan teknologi mekanis canggih.
Pendekatan ini tidak hanya efisien tetapi juga berkelanjutan, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jawa kuno yang menghormati keseimbangan ekosistem.
Warisan dan Relevansi
Warisan tata pengairan Majapahit masih relevan hingga kini. Sistem irigasi tradisional seperti subak di Bali, yang dipengaruhi Majapahit, tetap digunakan dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Teknologi sederhana namun efektif ini menjadi bukti bahwa inovasi masa lalu dapat menginspirasi pengelolaan sumber daya modern. Studi tentang sistem ini juga mengajarkan pentingnya perencanaan terpadu dan adaptasi terhadap kondisi lokal.
Dengan kecerdasan teknologi dan visi lingkungan yang terintegrasi, tata pengairan Majapahit tidak hanya mendukung kejayaan kerajaan, tetapi juga meninggalkan jejak peradaban yang patut diapresiasi hingga hari ini.**
Artikel Terkait
Ketika Odyseus Kembali ke Ithaca
Geger Pecinan: Pemberontakan Tionghoa di Jawa Tahun 1740
Younky Soewarno, The Hits Maker