Banjir 2025 Bukti Kita Tak Pernah Belajar Sejarah! Begini Tata Pengairan Zaman Majapahit

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 8 Maret 2025 | 07:25 WIB
Ilustrasi banjir di Kabupaten Karawang pada Jumat, 14 Oktober 2022. BMKG mengimbau semua pihak mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah dan kering pada tahun 2023. (Humas BNPB)
Ilustrasi banjir di Kabupaten Karawang pada Jumat, 14 Oktober 2022. BMKG mengimbau semua pihak mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi basah dan kering pada tahun 2023. (Humas BNPB)

TINEMU.COM - Kerajaan Majapahit, yang berdiri pada akhir abad ke-13 hingga abad ke-16 di Jawa Timur, dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Selain kejayaannya dalam politik, perdagangan, dan budaya, Majapahit juga menunjukkan kecerdasan luar biasa dalam pengelolaan sumber daya air melalui sistem pengairan yang maju untuk zamannya.

Sistem ini tidak hanya mendukung pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi, tetapi juga mencerminkan keseimbangan antara teknologi, kebutuhan masyarakat, dan harmoni dengan lingkungan.

Dasar Sistem Pengairan Majapahit
 
Pertanian sawah menjadi pilar utama kehidupan masyarakat Majapahit, dengan padi sebagai komoditas utama. Untuk mendukung pertanian basah ini, diperlukan pasokan air yang konsisten dan terkontrol.
 
Baca Juga: Alam dan Iman
 
Majapahit mengembangkan infrastruktur pengairan yang terdiri dari waduk, kanal, kolam, saluran air, dan bahkan gorong-gorong.
 
Sistem ini dirancang untuk mengalirkan air dari sumber alami seperti sungai ke lahan pertanian, menyimpan cadangan air saat musim kemarau, serta mencegah banjir pada musim hujan.
 
Bukti arkeologi di situs Trowulan, yang diyakini sebagai ibu kota Majapahit, menunjukkan jejak-jejak bangunan air yang terencana dengan baik.
 
Baca Juga: Raga dan Selasa
 
Salah satu elemen kunci adalah pembangunan waduk. Penelitian arkeologi mengidentifikasi sekitar 20 waduk kuno di wilayah sekitar Trowulan, seperti Waduk Baureno, Kumitir, Domas, Temon, dan Kraton.
 
Waduk-waduk ini tersebar di dataran utara pegunungan Anjasmoro, Welirang, dan Arjuno, menunjukkan pemahaman mendalam tentang topografi dan hidrologi.
 
Waduk Baureno, misalnya, merupakan yang terbesar dan terletak strategis di dekat pertemuan Kali Boro dan Kali Landean, berfungsi sebagai penampung air utama.
 
 
Infrastruktur dan Teknologi
 
Selain waduk, Majapahit membangun kolam buatan seperti Kolam Segaran, Balong Bunder, dan Balong Dowo di Trowulan. Kolam Segaran, yang ditemukan oleh arkeolog Maclaine Pont pada 1926, adalah yang paling monumental dengan panjang 375 meter dan lebar 175 meter.
 
Dindingnya terbuat dari bata tanpa perekat, menunjukkan keahlian konstruksi yang tinggi. Kolam ini terhubung dengan saluran masuk dan keluar yang mengalirkan air ke kolam lain, menciptakan sistem distribusi air yang efisien.
 
 
Kanal-kanal juga menjadi bagian integral dari sistem pengairan Majapahit. Kanal-kanal besar, seperti yang ditemukan di daerah Kedaton dengan lebar 26 meter, diperkuat tanggul bata.
 
Kanal ini tidak hanya mengairi sawah, tetapi juga diduga digunakan sebagai jalur transportasi perahu kecil, menunjukkan multifungsi infrastruktur air. Saluran-saluran kecil dan gorong-gorong dari bata atau pipa terakota melengkapi jaringan ini, menyalurkan air hingga ke pemukiman dan lahan pertanian.
 
Fungsi dan Keselarasan dengan Alam
 
 
Sistem pengairan Majapahit memiliki tiga fungsi utama: irigasi, pengendalian banjir, dan sanitasi. Irigasi memastikan sawah tetap subur sepanjang tahun, mendukung produksi padi yang melimpah.
 
Pengendalian banjir dilakukan dengan mengalirkan kelebihan air ke waduk atau kanal, mencegah kerusakan lahan. Sanitasi tercermin dari saluran air di pemukiman, yang menunjukkan kesadaran tinggi terhadap kebersihan lingkungan.
 
Keunggulan sistem ini terletak pada keselarasannya dengan alam. Majapahit memanfaatkan kontur alam, seperti lereng gunung dan aliran sungai, untuk mengarahkan air secara gravitasi tanpa memerlukan teknologi mekanis canggih.
 
 
Pendekatan ini tidak hanya efisien tetapi juga berkelanjutan, mencerminkan filosofi hidup masyarakat Jawa kuno yang menghormati keseimbangan ekosistem.
 
Warisan dan Relevansi
 
Warisan tata pengairan Majapahit masih relevan hingga kini. Sistem irigasi tradisional seperti subak di Bali, yang dipengaruhi Majapahit, tetap digunakan dan diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
 
Teknologi sederhana namun efektif ini menjadi bukti bahwa inovasi masa lalu dapat menginspirasi pengelolaan sumber daya modern. Studi tentang sistem ini juga mengajarkan pentingnya perencanaan terpadu dan adaptasi terhadap kondisi lokal.
 
 
Dengan kecerdasan teknologi dan visi lingkungan yang terintegrasi, tata pengairan Majapahit tidak hanya mendukung kejayaan kerajaan, tetapi juga meninggalkan jejak peradaban yang patut diapresiasi hingga hari ini.**

Artikel Selanjutnya

Ketika Odyseus Kembali ke Ithaca

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X