Kotagede: Sebuah Cerita Reruntuhan dari Sisa Keberanian

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 12 Juni 2025 | 13:22 WIB
Foto sisi tembok kawasan keraton Kotagede diambil dari wikipedia
Foto sisi tembok kawasan keraton Kotagede diambil dari wikipedia

TINEMU.COM - Di pinggir Yogyakarta yang sekarang sibuk oleh gempita motor, toko oleh-oleh, dan deretan kafe hipster; kafe dengan suasana unik yang menjual kopi seharga dua piring pecel, berdirilah Kotagede—sebuah nama yang dalam suku kata-sukunya menyimpan letupan sejarah, batu-batu tua, dan aroma dupa dari makam para raja.

Ah, Kotagede. Namamu mulia, seangkuh puing-puing yang tak mau rubuh. Katanya berasal dari kata Jawa: kutha yang berarti kota atau benteng, dan gedhé yang berarti besar. Tapi jangan lekas-lekas mengartikan itu sebagai “big city”—bukan seperti Jakarta atau Tokyo. Ini kota dalam arti yang lebih luhur: kota yang dibangun dari semangat, dari cita-cita, dan dari dendam sejarah yang direkatkan dengan tanah liat dan air mata.

Kisah Kotagede ini bisa dimulai dari seorang lelaki tua, Ki Ageng Pamanahan, yang oleh raja Pajang dihadiahi hutan—ya, benar, hutan!—sebagai ganjaran menang sayembara. Hutan itu kemudian dijadikan permukiman. Mentaok namanya, tanah liar di timur Sungai Gajah Wong. Dari situlah semua ini bermula.

Anaknya, Panembahan Senapati, bukan tipe pria yang suka diam di rumah sambil menulis puisi. Ia ingin lebih. Ia membangun kota. Ia mendirikan keraton, masjid, pasar, benteng, dan tentu saja, nama. Mataram. Sebuah kerajaan. Sebuah ambisi.

Senapati bukan sekadar mendirikan kota dengan batu dan kapur. Ia mendirikan imajinasi. Kota itu dilingkari tembok dan parit, seperti hendak melindungi sesuatu yang sakral. Barangkali bukan hanya tubuh raja, tapi juga cita-cita tentang Jawa yang besar dan merdeka dari pengaruh Demak maupun Pajang.

Tembok dalam, atau cepuri, mengurung pusat kekuasaan seperti kepompong. Tembok luar, baluwarti, menegaskan batas—bukan sekadar wilayah, tapi juga batas antara sakral dan profan. Kotagede menjadi semacam kitab terbuka yang dibaca bukan dengan mata, tapi dengan batin. Temboknya tidak sekadar bata. Ia adalah pernyataan.

Sultan Agung, cucu spiritual Senapati, kemudian memindahkan pusat ke Karta, karena mungkin baginya, ambisi tak bisa diikat satu tempat. Tapi Kotagede tak jadi kota buangan. Ia tetap dijaga.

Makam-makam leluhur tidak dibagi—tak seperti tanah sawah yang habis dipetak waris. Dua kerajaan hasil pecahan Mataram, Surakarta dan Yogyakarta, justru berbagi tugas menjaga tempat ini. Dalam politik mereka bertengkar, tapi di Kotagede mereka berdamai—pada pusaka.

Kini kita punya Masjid Gede. Tua, sederhana, dan tidak mencari perhatian. Tiangnya dari kayu, dindingnya tebal, dan atapnya limasan. Di sekelilingnya, parit kecil menjadi tempat membasuh kaki. Sebuah isyarat, bahwa sebelum memasuki ruang suci, orang harus membersihkan sisa-sisa dunia.

Di barat masjid, ada pemakaman. Tak seperti pemakaman elit masa kini yang penuh marmer dan patung malaikat menangis, makam Kotagede adalah sunyi yang damai. Tidak menyilaukan, tapi menyerap.

Di sinilah Ki Gede Mataram, Senapati, dan bahkan Sultan Adiwijaya dibaringkan. Mereka tidak lagi menguasai dunia, tapi tanah yang mereka diami kini menguasai hati peziarah.

Pasarnya, Pasar Gede atau biasa disebut juga Pasar Legi, masih berdiri. Tak ada karpet merah, hanya tikar dan tumpukan cabai. Tapi justru dari keramaian pasar inilah Kotagede mempertahankan denyutnya. Legi, satu hari dalam kalender Jawa, menjadi momentum perputaran ekonomi, juga perputaran cerita—cerita rakyat, cerita politik, cerita cinta yang sederhana.

Dan kalau Anda berjalan sedikit ke tenggara, Anda akan menemukan Bokong Semar. Nama yang jujur. Benteng melingkar itu dinamai karena bentuknya seperti bokong tokoh punakawan. Lucu? Ya. Tapi juga jenius. Ia menunjukkan bahwa dalam kuasa pun, Jawa menyelipkan humor. Bahkan tembok pun bisa dibuat tertawa.

Hari ini, banyak dari bangunan itu yang hanya tinggal nama. Reruntuhan bukanlah akhir. Reruntuhan adalah sisa-sisa keberanian. Seperti buku tua yang kehilangan sampul, tapi masih menyimpan hikmah di tiap lembarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Tags

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X