Kotagede bukan kota mati. Ia kota yang mengendap dalam ingatan. Kota yang hidup dalam ziarah, dalam pasar, dalam sawo kecik yang berbuah kecil tapi manis. Kota yang bertahan bukan karena kekuasaan, tapi karena hormat. Kota yang pernah besar, dan masih besar dalam cara-cara yang tak terduga.
Dan begitulah, para pembaca sekalian. Jika Anda ke Yogyakarta, luangkan waktu menyusuri Kotagede. Jangan hanya memotret batu atau selfie di depan gapura. Duduklah. Dengarkan. Kadang-kadang, batu lebih banyak bicara daripada manusia.***