temu-lawas

Sumbu Kosmologis Yogyakarta, Konsep Tata Ruang Kota Gudeg yang Sarat Makna

Senin, 15 Januari 2024 | 10:55 WIB
Tugu Yogyakarta, salah satu bagian dari Sumbu Kosmologis Yogyakarta. (kemdikbud.go.id/BPCB DIY)

TINEMU.COM - Yogyakarta merupakan satu dari sedikit kota di Indonesia dengan konsep tata ruang kewilayahan sarat makna. Salah satu yang terkenal adalah Sumbu Kosmologis Yogyakarta peninggalan Pangeran Mangkubumi.

Karena keistimewaannya, Sumbu Kosmologis Yogyakarta ini ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dalam Sidang ke-45 World Heritage Committe (WHC) di Riyadh, Arab Saudi, 18 September 2023.

UNESCO menyebut Sumbu Kosmologis Yogyakarta sebagai The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks yaitu perpaduan indah antara warisan budaya benda dan tak benda serta memiliki arti penting secara universal.

Baca Juga: Terapkan Empat Prinsip Ini dalam Hidup, Maka Anda Bisa Lebih Berbahagia

Pangeran Mangkubumi sebagai pencetus Sumbu Kosmologis Yogyakarta merupakan pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat bergelar Sultan Hamengku Buwana Senopati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah.

Pangeran Mangkubumi atau lebih dikenal sebagai Sultan Hamengku Buwana I tersebut ingin membangun sebuah kota yang memegang teguh nilai-nilai historis berlandaskan filosofi seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Konsep Sumbu Kosmologis Yogyakarta dicetuskan Sultan Hamengku Buwana I usai melaksanakan Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755. Putra Sunan Amangkurat IV itu membangun pusat kerajaannya berdasarkan konsepsi Jawa mengacu pada bentang alam seperti gunung, laut, sungai, serta daratan.

Baca Juga: Jangan Sembarangan Memilih Sepatu Jogging, Intip Dulu Tipsnya!

Lokasinya dipilih dekat sumber mata air Umbul Pacethokan. Kontur tanah wilayah bangunan keraton lebih tinggi, seperti di atas punggung kura-kura, dengan diapit oleh enam sungai, tiga di timur, dan tiga di barat. Sehingga terbebas dari banjir.

Dikutip dari website Keraton Yogyakarta bahwa Laut Selatan, Gunung Merapi, dan keraton digambarkan oleh pendiri kerajaan sebagai sebuah sumbu imajiner. Kendati tidak persis berada di dalam satu garis lurus.

Menurut buku Toponim Kota Yogyakarta karya Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta, sumbu nyata membentang dari utara ke selatan dalam satu garis lurus membentuk jalan menghubungkan Tugu Golong Gilig, keraton, dan Panggung Krapyak.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (309)

Di dalamnya tergambar perwujudan falsafah Jawa tentang keberadaan manusia meliputi daur hidup manusia (Sangkan Paraning Dumadi), kehidupan harmonis antarmanusia dan manusia dengan alam (Hamemayu Hayuning Bawana).

Lalu, hubungan antara manusia dan Sang Pencipta serta pemimpin dengan rakyatnya (Manunggaling Kawula Gusti). Tak lupa, dunia mikrokosmik dan makrokosmik.

Halaman:

Tags

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB