Pada hari Minggu diadakan acara peringatan untuk lima anggota Asosiasi Walter Spies yang telah meninggal sejak pandemi Covid-19, yaitu Heinrich Seemann, mantan Duta Besar Republik Federasi Jerman di Jakarta pada 1994-2000; dan Peter Sternagel, Direktur Goethe Institut Bandung, dan penerjemah sastra Indonesia.
Baca Juga: Serial Biopik Nike Ardilla Segera Beredar
Selanjutnya Viktoria Baronin von Plessen yang merupakan anak dari Baron Viktor von Plessen pembuat film berjudul ‘Island of the Demons‘; dan Horst-Henry Geerken, penulis buku tentang sejarah Indonesia.
Selain itu, terdapat salah satu acara sampingan yaitu pertunjukan Gamelan Jawa oleh grup Gamelan Java Lindhu Raras yang sangat mengesankan semua peserta acara.
Walter Spies merupakan seorang pelukis dan musisi berkebangsaan Jerman yang lahir di Moskow pada 1895. Terlahir dari keluarga kelas atas, Walter Spies terpapar dengan lingkungan kosmpolitan dan dikelilingi oleh hal-hal artistik. Tak ayal hal ini mempengaruhi minat dan bakat Walter Spies ketika ia beranjak dewasa.
Baca Juga: Lagi, Sigit Wardana Meluncurkan Single Baru
Pada 1923 ia berlayar ke Batavia dan menetap di rumah keluarganya di Bandung dimana ia bekerja sebagai pemain piano di sebuah teater film.
Pada 1924, Sultan Yogyakarta memberikan Walter Spies kesempatan untuk menjadi konduktor dan pianis di Keraton Yogyakarta. Di tahun awal kedatangannya, Walter Spies sangat sedikit melukis.
Ia lebih banyak berkecimpung di dunia musik. Pada tahun 1927 ia pindah ke pulau Bali setelah terpukau dengan alam, tradisi, dan kebudayaan masyarakat Bali. Semenjak itulah Walter Spies terhanyut mendalami kebudayaan Bali dan menghasilkan karya-karya seni salah satunya lukisan.
Baca Juga: Arkeolog Tolak Pemasangan Chatra Borobudur, Kemenag Jelaskan Perspektif Keagamaannya
Untuk terus melestarikan karya-karya dan ide Walter Spies, didirikanlah Asosiasi Walter Spies di Köln pada tahun 1996. “Kami bertujuan untuk terus menjaga karya-karya Walter Spies yang kini perlahan mulai dilupakan“ pungkas Jordt.***