TINEMU.COM - Siang tak memberi kenikmatan tidur atau menonton film menghibur. Siang itu keringat, debu, bersin, dan lagu cengeng. Ruangan amburadul gara-gara seribuan majalah menanti dirapikan.
Dua tangan Durjana mengangkat, membuka, menata, dan memotret. Majalah demi majalah mengajak berjalan ke masa lalu. Di hadapan majalah-majalah lawas, Durjana tertawa dan bersedih.
Tubuh telah kecut. Lapar sudah dijawab dengan semangkuk kacang ijo. Kerja belum selesai. Lagu-lagu cengeng masih terdengar.
Di depan, puluhan majalah Humor dan Hai. Durjana iseng menikmati Humor dulu. Detik-detik membuka dan membaca. Tertawa! Sekian detik memandangi gambar-gambar. Majalah masih manjur mengajak tertawa bagi orang bergelimang dosa. Humor tetap berpahala meski tamat.
Baca Juga: Teknologi Augmented Reality WIR Group Kantongi 5 Paten Global
Debu membikin bersin. Cuilan kertas-kertas berserakan bekas perbuatan pasukan tikus tampak menjengkelkan. Sekian majalah rusak. Durjana tertawa saja mengakui salah dan gagal memelihara ribuan majalah.
Humor menggudurkan marah dan kecewa. Humor memberi hiburan sejenak saat siang mau berganti sore. Lihatlah, Humor, 10-23 Oktober 1990! Keterangan tercantum: No 1. Harga: Rp 1.700. Wah, majalah edisi bersejarah!
Konon, kolektor dan peneliti sering menginginkan bertemu majalah-majalah nomor perdana. Durjana bergirang bertemu lagi Humor nomor perdana menampilkan gambar cukup lucu di kulit muka. Sosok lelaki parlente terduga terbiasa ngantor. Dua pena di saku dan dasi itu memastikan ia bukan manusia sembarangan.
Benarlah majalah itu tak main-main menghibur pembaca. Nama-nama penting dalam redaksi dan berpredikat kontributor: Darminto M Sudarmo, Arwah Setiawan, Darmanto Jatman, Emha Ainun Nadjib, Jaya Suprana, dan Putu Wijaya. Majalah mungkin berbobot sastra dan intelektual, tak cuma ngakak.
Baca Juga: Kain Tenun Ende dari Nenek Sofia untuk Presiden Jokowi
Durjana membaca pengantar redaksi: “Dalam konsep, kami memang tidak mau melucu dari lembar pertama sampai lembar pertama lagi (setelah dibaca habis maksudnya). Kami sengaja menyisihkan beberapa lembar untuk berserius-serius (kalau bisa).”
Majalah bernama Humor digarap tak selalu dengan tawa. Mereka memiliki konsep-konsep, bermaksud mewujudkan misi agar Indoensia berhak tertawa, tak selalu merana.
Darmanto Jatman sibuk dalam sastra dan psikologi. Ia diminta menjadi kontributor. Ia dijamin tetap lucu dalam pelbagai situasi. Darmanto Jatman berkomentar: “Saya gembira mendengar di Indonesia akhirnya ada juga penerbit yang mau menggarap majalah Humor secara serius. Baik dalam manajemen maupun materi yang ditawarkan. Segmentasi pembaca yang dituju pun kalangan ‘priyayi’. Bagi saya ini pertanda bakal ada tawaran humor yang berkebudayaan. Tidak vulgar, tidak under estimate.”
Humor sudah terbit sejak lama. Kehadiran redaksi dan kontributor itu menandakan manajemen baru. Penampilan dan rubrik-rubrik mengalami perubahan.
Baca Juga: KAI Gandeng Unhas Siapkan Pengoperasian Kereta Api di Sulsel
Artikel Terkait
Perjalanan Teh Hingga Amerika (Bagian 6)
Ende, Pohon Sukun, dan Lahirnya Pancasila
Opini Bandung Mawardi: Tagore, Komet, dan Bir