TINEMU.COM - Goenawan Mohamad mungkin bukan pakar (sejarah) Muhammadiyah tapi pernah menulis singkat: berlagak puitis dan kritis. Tulisan cuma sehalaman, tak penuh.
Sekian bulan lalu, terbit buku berjudul Pembentuk Sejarah oleh KPG. Buku berisi tulisan-tulisan pilihan sekian orang untuk “memastikan” Goenawan Mohamad peka sejarah. Buku itu tak memuat tulisan mengenai sejarah Muhammadiyah atau ketokohan Ahmad Dahlan.
Goenawan Mohamad cuma sedikit memunculkan Muhammadiyah, mengaitkan saat mengisahkan Soekarno dan fragmen pergerakan politik bercap Islam atau nasionalis. Goenawan Mohamad mungkin terlalu sibuk dengan beragam tema atau menganggap Muhammadiyah bukan tema selalu memikat untuk menghasilkan tulisan-tulisan kecil.
“Tua dan besar – itulah dua kata sifat yang bisa dengan cepat diterapkan buat Muhammadiyah,” kalimat dibuat Goenawan Mohamad. Satu kalimat saja sudah ingin “membuktikan” ia mengetahui sejarah dan perkembangan Muhammadiyah. Kalimat terbaca dalam majalah Tempo, 15 Desember 1990. Judul besar dipasang di kulit muka Tempo meminta jawab: “Muhammadiyah Berubah?”
Baca Juga: Majalah Hai dan Dua Orang Tokoh
Kita membaca lagi kelihaian Goenawan Mohamad mengadakan kalimat: “Sebuah organisasi yang besar dan tua memang punya wibawa, tapi juga mungkin punya kesulitan untuk bergerak lincah.” Kalimat dari puluhan tahun lalu. Kini, Goenawan Mohamad tetap diakui tokoh besar dan menua. Ia masih mungkin menulis tentang Muhammadiyah menjelang atau setelah acara Muktamar Muhammadiyah di Solo, 18-20 November 2022.
Kita menduga Tempo bakal membuat lagi laporan panjang. Goenawan Mohamad mungkin ikut menulis. Kita menanti saja.
Tulisan singkat Goenawan Mohamad (1990) bisa dipertemukan dengan buku Alfian berjudul Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda (2010). Buku besar dan cukup tebal. Buku diharap terus cetak ulang dan mendapatkan pembaca.
Baca Juga: Kisah Adam Adhitya Prayoga, Putra Tukang Las Kuliah Gratis di UGM
Alfian menerangkan: “Secara umum dapat dikatakan bahwa besarnya pertumbuhan organisasi Muhammadiyah boleh jadi lebih besar daripada gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi pribumi lainnya yang dibolehkan hidup oleh Belanda selama beberapa tahun menjelang berakhirnya pemerintahan kolonial…” Organisasi itu besar dan berpengaruh. Pada abad XXI, organisasi itu mungkin makin besar. Usia pun tua.
Orang-orang ingin mengetahui Muhammadiyah tentu memilih membaca buku Alfian ketimbang 14 jilid Catatan Pinggir dari Goenawan Mohammad. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah itu berada di “pinggiran” dalam ribuan tulisan sudah dihasilkan Goenawan Mohamad.
Di majalah Tempo, 15 Desember 1990, kita menjumpai kalimat: “Lagi pula, dibanding dengan organisasi Islam lain di sini, ‘pusaka’ peninggalan Kiai Dahlan ini memiliki anggota yang lebih terdidik, sebagai orang kota – bila dibandingkan dengan NU yang punya anggota mayoritas dari pedesaan – selain punya kondisi sosial ekonomi yang lebih memadai.” Pada 2022, kalimat itu boleh diralat. Kita menunggu kalimat-kalimat dimuat dalam Tempo saat melaporkan muktamar di Solo.
Baca Juga: Review Harakiri: Kehormatan, Moralitas, dan Ritual Bunuh Diri
Usaha membuat kliping Muhammadiyah dalam majalah Tempo tak terlalu melelahkan. Kita mungkin bakal geleng-geleng kepala mengetahui perubahan-perubahan di Indonesia terlalu cepat. Kemauan membaca segala hal mengenai Muhammadiyah dalam berita dan kolom di Tempo mungkin bisa membekali saat kita berceloteh menjelang dan setelah muktamar di Solo. Begitu.**
Artikel Terkait
Dono Ternyata Penulis Novel Laris, Lho..
Dari Rumah Kayu Fondasi Batu di Lahan Sewa, Akhirnya VOC Menguasai Batavia
Review Harakiri: Kehormatan, Moralitas, dan Ritual Bunuh Diri
Majalah Hai dan Dua Orang Tokoh