Muhammadiyah: Besar dan Tua

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 19 Juli 2022 | 09:57 WIB
Majalah Tempo yang membahas Muhammadiyah di tahun 90-an (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Majalah Tempo yang membahas Muhammadiyah di tahun 90-an (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Goenawan Mohamad mungkin bukan pakar (sejarah) Muhammadiyah tapi pernah menulis singkat: berlagak puitis dan kritis. Tulisan cuma sehalaman, tak penuh.

Sekian bulan lalu, terbit buku berjudul Pembentuk Sejarah oleh KPG. Buku berisi tulisan-tulisan pilihan sekian orang untuk “memastikan” Goenawan Mohamad peka sejarah. Buku itu tak memuat tulisan mengenai sejarah Muhammadiyah atau ketokohan Ahmad Dahlan.

Goenawan Mohamad cuma sedikit memunculkan Muhammadiyah, mengaitkan saat mengisahkan Soekarno dan fragmen pergerakan politik bercap Islam atau nasionalis. Goenawan Mohamad mungkin terlalu sibuk dengan beragam tema atau menganggap Muhammadiyah bukan tema selalu memikat untuk menghasilkan tulisan-tulisan kecil.

“Tua dan besar – itulah dua kata sifat yang bisa dengan cepat diterapkan buat Muhammadiyah,” kalimat dibuat Goenawan Mohamad. Satu kalimat saja sudah ingin “membuktikan” ia mengetahui sejarah dan perkembangan Muhammadiyah. Kalimat terbaca dalam majalah Tempo, 15 Desember 1990. Judul besar dipasang di kulit muka Tempo meminta jawab: “Muhammadiyah Berubah?”

Baca Juga: Majalah Hai dan Dua Orang Tokoh

Kita membaca lagi kelihaian Goenawan Mohamad mengadakan kalimat: “Sebuah organisasi yang besar dan tua memang punya wibawa, tapi juga mungkin punya kesulitan untuk bergerak lincah.” Kalimat dari puluhan tahun lalu. Kini, Goenawan Mohamad tetap diakui tokoh besar dan menua. Ia masih mungkin menulis tentang Muhammadiyah menjelang atau setelah acara Muktamar Muhammadiyah di Solo, 18-20 November 2022.

Kita menduga Tempo bakal membuat lagi laporan panjang. Goenawan Mohamad mungkin ikut menulis. Kita menanti saja.

Tulisan singkat Goenawan Mohamad (1990) bisa dipertemukan dengan buku Alfian berjudul Politik Kaum Modernis: Perlawanan Muhammadiyah terhadap Kolonialisme Belanda (2010). Buku besar dan cukup tebal. Buku diharap terus cetak ulang dan mendapatkan pembaca.

Baca Juga: Kisah Adam Adhitya Prayoga, Putra Tukang Las Kuliah Gratis di UGM

Alfian menerangkan: “Secara umum dapat dikatakan bahwa besarnya pertumbuhan organisasi Muhammadiyah boleh jadi lebih besar daripada gerakan-gerakan atau organisasi-organisasi pribumi lainnya yang dibolehkan hidup oleh Belanda selama beberapa tahun menjelang berakhirnya pemerintahan kolonial…” Organisasi itu besar dan berpengaruh. Pada abad XXI, organisasi itu mungkin makin besar. Usia pun tua.

Orang-orang ingin mengetahui Muhammadiyah tentu memilih membaca buku Alfian ketimbang 14 jilid Catatan Pinggir dari Goenawan Mohammad. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah itu berada di “pinggiran” dalam ribuan tulisan sudah dihasilkan Goenawan Mohamad.

Di majalah Tempo, 15 Desember 1990, kita menjumpai kalimat: “Lagi pula, dibanding dengan organisasi Islam lain di sini, ‘pusaka’ peninggalan Kiai Dahlan ini memiliki anggota yang lebih terdidik, sebagai orang kota – bila dibandingkan dengan NU yang punya anggota mayoritas dari pedesaan – selain punya kondisi sosial ekonomi yang lebih memadai.” Pada 2022, kalimat itu boleh diralat. Kita menunggu kalimat-kalimat dimuat dalam Tempo saat melaporkan muktamar di Solo. 

Baca Juga: Review Harakiri: Kehormatan, Moralitas, dan Ritual Bunuh Diri

Usaha membuat kliping Muhammadiyah dalam majalah Tempo tak terlalu melelahkan. Kita mungkin bakal geleng-geleng kepala mengetahui perubahan-perubahan di Indonesia terlalu cepat. Kemauan membaca segala hal mengenai Muhammadiyah dalam berita dan kolom di Tempo mungkin bisa membekali saat kita berceloteh menjelang dan setelah muktamar di Solo. Begitu.**

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X