TINEMU.COM - Pada siang mendung, Durjana menuruti kangen bertemu buku dan majalah lama di Gladag (Solo). Kangen dengan para pedagang tampak tabah menunggu ribuan buku dan majalah tak pernah habis. Di sana, kangen masa lalu pun bisa ditebus.
Durjana jarang membuat rencana untuk membeli “ini” dan “itu”. Datang dan berhadapan saja dengan dagangan sering berharga murah. Di kios agak rapi, Durjana memandang tumpukan majalah: Bobo, Hai, Tempo, Editor, dan lain-lain. Majalah-majalah itu menggoda.
Duduk sambil membuka majalah-majalah. Pilihan awal majalah Hai. Durjana sedang mencari iklan buku-buku remaja, ingin mengingat masa lalu dan buku turut dipengaruhi peran majalah Hai. Sekian majalah sudah dipilih, tinggal dihitung harga. Durjana memastikan berutang lagi.
Baca Juga: Kisah Adam Adhitya Prayoga, Putra Tukang Las Kuliah Gratis di UGM
Di buku berjudul Rahasia Dapur Majalah di Indonesia (1995) susunan Kurniawan Junaedhie, terbaca keterangan: “Pada 4 Januari 1978, kembali kelompok Penerbit Gramedia, yang setahun sebelumnya gagal menerbitkan Midi, melemparkan produk terbarunya, Hai (singkatan hiburan, amal, ilmu).” Secuil keterangan penting dalam menuruti selera membaca majalah Hai, dari masa ke masa.
Peristiwa tanpa rencana mempertemukan Durjana dengan dua tokoh kondang di Indonesia. Pertemuan dalam tumpukan majalah bekas. Di depan mata, Hai edisi 8-14 Mei 1984. Lelaki bergitar. Gambar tak terlalu membujuk. Di kulit muka, terbaca nama: KH Ahmad Dahlan. Sekian hari lalu, nama sempat diperbincangkan dengan pengarang tinggal di Jogja. Obrolan iseng memikirkan Muhammadiyah melalui sekian tokoh, buku, majalah. Keinginan agar tak selalu mengungkap Ahmad Dahlan.
Hai, majalah tak selalu mengenalkan tokoh-tokoh dalam industri musik, film, komik, dan novel. Majalah digandrungi kaum remaja pun menampilkan tokoh-tokoh memuliakan dan memajukan Indonesia, dari masa ke masa.
Baca Juga: Review Harakiri: Kehormatan, Moralitas, dan Ritual Bunuh Diri
Di halaman 6-7, KH Ahmad Dahlan (1 Agustus 1868-23 Februari 1923) diperkenalkan agar para remaja mengerti sejarah, menengok babak-babak pembentukan Muhammadiyah dan peran selama puluhan tahun. Pameran kata bikin penasaran: pulang dari Mekah, ia/ ganti nama/ kiblat surau, agak ke utara/ 24,5 derajat/ sekolah bagi kaum wanita/ bukan cuma pengajian/ bahasa Belanda, huruf/ Latin diperkenalkan/ lebaran ditepatkan/ Muhammadiyah didirikan/ bergerak dalam bidang/ pendidikan dan/ kultural/ pernah ngambek tapi tetap tawakal. Sekian cerita mungkin sudah diketahui para remaja di sekolah, pengajian, atau membaca buku. Foto sang tokoh pun mudah dikenali.
Pengenalan di majalah Hai memerlukan bahasa “enteng’ tapi memicu renungan. Tulisan dua halaman itu menjadikan Ahmad Dahlan tak cuma tokoh dalam pemikiran agama. Ia ditampilkan sebagai tokoh pendidikan meski kaum remaja melulu mengetahui Ki Hadjar Dewantara.
Kejutan diperoleh lagi saat membuka majalah Hai, 17-23 Juni 1986. Ada gambar bola. Oh, Piala Dunia di Mexico! Durjana tak sedang berurusan sepakbola.
Baca Juga: BRIN Batalkan Rencana Renovasi Ruangan Kerja Dewan Pengarah
Durjana menikmati tulisan di halaman 6 dan 7. Deretan kata: Pesantren Tebuireng. Siapa yang tak kenal?/ Di sanalah pengabdiannya/ Menundukkan jagoan dengan mengawinkan anaknya kepada jagoan itu/ Bukan ilmu agama saja yang diajarkan tapi juga pengetahuan umum/ Kedisiplinan dan kejujuran selalu dijunjung tinggi/ Siapa yang tak berjamaah dihukum mengisi bak mandi 50 timba.
Kaum remaja berkenalan dengan KH Hasyim Asy’ari (14 Februari 1871-25 Juli 1947). Mereka mengingat tokoh dan NU. Sosok penting dalam dakwah. Di majalah Hai, para remaja memastikan KH Hasyim Asy’ari itu tokoh pendidikan.
Kita diajak lagi menghormati dua tokoh dakwah dan pendidikan di Indonesia. Pengenalan berbarengan kegembiraan para pembaca menikmati cerita, iklan, artikel, profil artis, dan lain-lain. Ingatan telat bagi peminat masalah dakwah dan pendidikan.
Artikel Terkait
Almanak dan Nostalgia
Review The Godfather : Melihat Mafia Dari Dalam
Dono Ternyata Penulis Novel Laris, Lho..
Dari Rumah Kayu Fondasi Batu di Lahan Sewa, Akhirnya VOC Menguasai Batavia
Review Harakiri: Kehormatan, Moralitas, dan Ritual Bunuh Diri