TINEMU.COM - Bocah itu bernama Raras. Bocah membuat kita tertawa, jengkel, kangen, dan kagum.
Djokolelono menceritakan Raras: “Jika ayah mengetik, ia ikut mengetik. Raras dapat mengetik? Tentu dapat. Hasilnya seperti ini; xg dfjj vdhsx dhhfbbnnzcnmmc zbndghgdykvshmbxgjmcdmmxfnn hgfjxbmmf bbvRARAS. Nah. Dapat, bukan? Raras memang sudah dapat menulis dan membaca namanya sendiri.”
Pengisahan Raras mengetik terdapat dalam buku berjudul Raras dan Teman-Temannya (1986) gubahan Djokolelono. Pada masa 1980-an, mesin tik untuk kelancaran pekerjaan orang-orang di pelbagai kantor.
Mesin tik pun digunakan para mahasiswa dan dosen dalam ritual keintelektualan. Mesin tik, benda memikat di Indonesia. Benda turut dalam kemajuan sastra, pendidikan, ilmu pengetahuan, bisnis, politik, dakwah, dan lain-lain.
Baca Juga: Gesang, Perkutut, dan Populasi Burung-Burung di Jawa dan Bali
Pada 1945, mesin tik dalam sejarah saat digunakan oleh Sajuti Melik. Soekarno itu penulis dan orator, bukan pengetik. Dulu, kita melihat tulisan tangan Soekarno itu indah. Soekarno jarang kita kenali sebagai pengetik. Ia fasih bercerita pena ketimbang mesin tik. Soekarno pasti paham mesin tik dan khasiat dalam babak-babak sejarah Indonesia.
Djokolelono menghadirkan mesin tik untuk hiburan. Raras boleh menganggap mesin tik sebagai benda mainan. Di kalangan dewasa, mesin tik untuk bekerja. Jari-jari Raras menjadikan mesin tik bersuara dan menghasilkan pemandangan bikin senang. Huruf-huruf berhasil tampil di kertas tapi tak terbaca. Kita berimajinasi setiap selesai mengetik Raras tertawa dan bahagia.
Raras itu tokoh dalam fiksi, bukan sosok mungkin bermimpi bisa mengetik pada masa 1930-an.
Kita mewarisi buku (tak) penting. Buku kecil dan tipis berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 (1931) garapan M Soewardjo. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Kotagede, Jogjakarta. Dulu, buku itu berharga f 1.
Baca Juga: Review The Great Dictator: Kala Chaplin Menjelma Hitler
Kita meragu bila buku itu masuk daftar koleksi penting di Perpustakaan Nasional atau perpustakaan-perpustakaan di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, dan lain-lain.
Buku mungkin tersisa sedikit di dunia. Buku hampir berusia 100 tahun. Buku masih terbaca saat kita “kehilangan” dan sulit lagi melihat mesin tik. Konon, mesin tik telah menjadi benda antik.
Pengakuan penulis buku: “Aku oego doedoe goeroe toemrap kawroeh ngetik, nangin sahrene kita wis nglakoni dewe lan ja woes njata, dadi sanadjan doeroeng sampoerna…” M Soewardjo bukan guru mengetik di suatu sekolah atau kursus.
Ia sudah biasa mengetik meski tak sempurna. Pengalaman ingin dibagikan pada orang-orang ingin bisa mengetik. Pengakuan lugu tapi membuktikan bahwa cuma sedikit orang di tanah jajahan pernah melihat dan memegang mesin tik. Jumlah orang bisa mengetik masih sedikit saat Indonesia digoda “kemadjoean”.
Kita wajib simak keterangan diberikan Soewardjo: “Nalika taoen 1910 mangisor, ing Indonesia isih longka banget ing kantor-kantor gede, loewih-loewih kantor kang tjilik-tjilik ora ana babar pisan wong noelis nganggo mesin toelis (schrijfmachine).”
Artikel Terkait
Muhammadiyah: Besar dan Tua
Membayangkan Pieter Both Sosok Pelopor Penjajahan VOC Belanda di Nusantara
Pertama dalam Sejarah Jawa, Raffles Menjarah Keraton Jogja
Review The Great Dictator: Kala Chaplin Menjelma Hitler