TINEMU.COM - Orang-orang pergi ke Sarinah. Di sana, mereka berbelanja atau melihat pemandangan. Sekian orang memastikan memotret diri gara-gara sekian tempat terbukti elok. Sarinah menjadi pikat mutakhir, setelah menempuhi jalan sejarah tak selalu terang.
Di Jakarta, Sarinah itu masih membawakan sejarah dan ketokohan meski jarang disampaikan utuh. Kini, orang-orang pergi ke Sarinah tanpa janji pergi ke majalah.
Kita mengatakan majalah bermaksud menengok berita-berita lama dimuat di majalah. Dulu, Sarinah menjadi sumber pemberitaan mengenai Indonesia dalam urusan bisnis, arsitektur, perkotaan, politik, dan lain-lain.
Pada 2022, berita-berita terbaru tentang Sarinah terus bertambah. Hal-hal baru diadakan di Sarinah tanpa meninggalkan atau membuang hal-hal lama masih mungkin bercerita kepada kita. Sarinah “berubah” demi sadar zaman dan memenuhi selera “terbarukan”.
Baca Juga: Kemenag Buka Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) Tahap 2 Bagi 300 Ribuan UMK
Di majalah Djaja, 27 Agustus 1966, kita membaca berita berjudul “Pembukaan Pasar Serba Ada Sarinah”. Berita agak mengandung sindiran: “… sampai pembukaan mendjelang hari kemerdekaan 17 Agustus (Seni jang lalu) – dengan istilah keren lagi grand opening – baru terisi sampai tingkat tiga. Tingkat 4 sampai 14 masih kosong mlompong.” Di Jakarta, Sarinah termasuk gedung tinggi dengan 14 tingkat. Bangunan itu megah.
Pada masa 1960-an, keinginan mendirikan Sarinah itu penuh ide dan pengharapan muluk. Kita membaca kutipan berita sambil mengenang masa lalu: “Idenja, Tosera Sarinah akan turut melaksanakan program sandang pangan Kabinet Ampera. Barang-barang dan sandang pangan, jang lagi-lagi dengan istilah mentereng disebut barang-barang price leaders: tekstil rakjat, beras dan ekivalen, ikan, daging, gula, minjak goreng dan sajur-majur, terhitung palawidja akan dimurahkan.”
Di tempat terjanjikan, orang-orang diundang datang dan berbelanja. Di situ, murah menjadi mufakat demi menjadikan Sarinah bercerita Indonesia makmur dan sejahtera.
Baca Juga: Pakai Sepeda Listrik, Emang Kenapa?
Orang-orang di Jakarta diminta meramaikan. Sarinah menanti pemaknaan publik. Situasi memang masih tak keruan, setelah gegeran 1965. Sarinah mungkin “bujukan” agar orang-orang bangkit dan menggerakkan perekonomian Indonesia.
Di luar berita, orang-orang mungkin mencipta cerita-cerita bertema Sarinah, beredar dengan mulut dan telinga. Peredaran tentu cepat menjadikan Sarinah itu gedung bikin penasaran.
Di majalah Djaja, berita mengandung awalan agak lucu bisa menjadi cerita: “Kalau anda mau mengantar njonja kepasar Sarinah membeli terasi jang dibungkus rapi, anda perlu tahu dulu dimana letaknja.”
Kita mundur lagi untuk mengetahui alur pendirian Sarinah. Kita membuka majalah Djaja, 12 September 1964. Situasi politik dan ekonomi Indonesia sedang amburadul. Sengketa ideologi makin ramai. Di Jakarta, segala ruwet ditanggapi dengan pendirian Sarinah berharap sukses.
Baca Juga: Offroad Masa Depan Tak Lagi Menakutkan, Ada Mobil Buggy Listrik!
Kita mengutip isi berita: “Menghubungkannja dengan Hotel Indonesia jang djuga terletak didjalan jang sama, Sarinah agaknja masih merupakan tanda tanja bagi masjarakat ramai, apakah toko segala ada ini nantinja bukan hanja untuk kaum punja sadja.” Penjelasan-penjelasan rajin diberikan agar orang-orang paham bahwa Sarinah untuk semua.
Artikel Terkait
Sabun Mandi Tak Harus Wangi
Perlawanan Rakyat Aceh Hingga Papua demi Kemerdekaan Indonesia dari Penjajahan Jepang
Bendera: Iklan dan Buku Lama