TINEMU.COM - Di Pulau Jawa, Raden Fatah akhirnya berguru dengan Sunan Ampel. Selanjutnya dia mulai berdakwah di wilayah Demak dan Bintoro. Melalui satu peperangan, Raden Fatah berhasil menggulingkan penguasa setempat, dan menjadi penguasa di wilayah tersebut.
Setelah itu, dia menggabungkan kedua wilayah tersebut, sehingga dikenal kemudian dengan sebutan Demak-Bintoro.
Berbeda dengan yang dituturkan oleh Serat Kadaning Ringgit Purwa, menurut Babad Tanah Jawi, alasan kepergian Raden Fatah dan Raden Kusen dari Palembang, karena mereka tidak mau menggantikan posisi ayahnya sebagai Adipati Palembang.[1]
Bisa jadi, alasan penolakan itu karena Raden Fatah masih ingin menimba banyak ilmu. Sebab sebagaimana dikatakan Agus Sunyoto, semakin dewasa, kebutuhan Raden Fatah akan ilmu kian bertambah. [2] Dia butuh pemuasannya.
Baca Juga: Jaga Kenyamanan Masyarakat, PLN Batalkan Program Kompor Listrik
Maka pergilah Raden Fatah dari negeri Palembang ditemani oleh adik tirinya, Raden Kusen. Dalam pengembaraannya mencari ilmu, Raden Fatah dan Raden Kusen dikisahkan sampai ke pinggir laut dan berjumpa dengan seorang pelaut Cina yang membawa mereka berdua ke Jawa dengan kapalnya.
Menurut naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang, dalam perjalanannya, Raden Fatah sempat singgah dulu di Semarang dan sholat di dalam masjid. Dia meratap ketika melihat di dalam masjid ada patung Sam Po Kong.
Dia berdoa, mudah-mudahan kelak ketika dia mampu mendirikan masjid, tempat itu tidak akan berubah menjadi klenteng sepeninggalnya. Setelah dari Semarang, Raden Fatah dan Raden Kusen terus berjalan lagi, hingga tiba di Surabaya.[3]
Di Surabaya, mereka berdua dihadapkan ke Sunan Ampel guna menyampaikan keinginan untuk berguru Agama Islam. Raden Fatah dan Raden Kusen kemudian diterima menjadi murid oleh Sunan Ampel.
Bahkan, Raden Fatah kemudian dinikahkan dengan putri Sunan Ampel yang bernama Dewi Murthosimah dan Raden Kusen dinikahkan dengan cucu Sunan Ampel yang bernama Nyai Willis.
Baca Juga: Ikuti Kompetisi Robotik Madrasah 2022, Total Hadiah Rp 300 Juta
Demikianlah, kabar putra dan cucu raja Majapahit asal Palembang yang berguru kepada Sunan Ampel itu tersiar sampai ibu kota dan dilaporkan pada Raja Majapahit.[4]
Menerima laporan itu, Prabu Brawijaya kemudian mengundang Raden Kusen, cucunya ke Istana. Sewaktu datang memenuhi undangan ke Istana, di hadapan raja, Raden Kusen menyatakan keinginannya untuk mengabdi kepada raja, yang tidak lain adalah kakeknya.
Dia bersedia mempersembahkan jiwa dan raga untuk raja. Prabu Brawijaya berkenan dengan cucunya itu. Keinginan Raden Kusen untuk mengabdi pun diterima dengan sukacita. Lalu Prabu Brawijaya mengangkatnya menjadi seorang adipati, sang pancathanda[5] di negeri Terung.[6]
Artikel Terkait
Mengenal Sultan Demak I: Keturunan Siapa Raden Fatah Sesungguhnya? (1)
Mengenal Sultan Demak I: Raden Fatah Putra Kertabumi atau Kertawijaya ? (2)
Mengenal Sultan Demak I: Awal Sayyid Ali Rahmatullah Bergelar Sunan Ampel (3)
Mengenal Sultan Demak I: Perdebatan Raden Fatah dengan Aryo Damar (4)