Mengenal Sultan Demak I: Masjid Demak Bangunan Pertama dan Terakhir yang Tersisa (7)

photo author
Zabidi Sayidi, Tinemu
- Kamis, 29 September 2022 | 17:23 WIB
Foto dari solopos.com
Foto dari solopos.com

TINEMU.COM - Masjid Agung Demak menjadi momentum lahirnya sistem pemerintahan Islam pertama di Pulau Jawa. Sejak itu, konsep dakwah Islam menjadi lebih terorganisir dan sistematis, sehingga penyebaran Islam lebih progresif dan massif di Pulau Jawa.

Masjid Agung Demak dipercaya sebagai bangunan yang pertama dibangun pertama di Kesultanan Demak. Menariknya, masjid ini pula bangunan terakhir yang tersisa dari peninggalan kesultanan Islam pertama di pulau Jawa tersebut. Sekarang, lokasi Masjid ini terletak di desa Kauman, Jalan Raya Sultan Fatah No.57 Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Masing-masing Saka Guru memiliki tinggi 1630 cm.

Formasi tata letak empat Saka Guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut merupakan sumbangan dari Sunan Kalijaga.[1]

Baca Juga: Presiden Jokowi: Jaga Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Tetap Kondusif

Khusus untuk saka guru sumbangan Sunan Kalijaga, terdapat nama sendiri, yaitu saka tatal. Disebut demikian, karena salah satu dari tiang utama tersebut berasal dari serpihan-serpihan kayu (tatal) yang diketam.[2]  

Gambar sakaguru yang sekarang di dalam Masjid Agung Demak. Sakaguru ini adalah replika. Karena sakaguru yang asli kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk menopang struktur bangunan. Sumber gambar: flickr.com

Gambar sakaguru Masjid Demak yang dipercaya berasal dari abad ke 14 M. Sekarang, sakaguru ini tersimpan di dalam Museum Masjid Demak yang terletak di dekat masjid tersebut. Sumber gambar: https://www.magz.restubpr.com

Adapun bagian serambi, merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan.[3]

Masjid Agung Demak. tampak yang beratap limas bersusun tiga adalah bangunan utama yang di dalamnya terdapat sakaguru. Sedang yang di depan adalah serambi yang ditopang oleh saka Majapahit. Sumber gambar: kompasiana.com

Baca Juga: Presiden Jokowi: UMKM di Maluku Utara Sudah Sangat Profesional

Terdapat pula lima buah pintu yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain sekaligus sebagai lambang 5 rukun Islam yakni syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.

Selain itu, terdapat enam jendela pada masjid Demak yang melambangkan 6 rukun iman, yakni percaya kepada Allah SWT, percaya kepada rasul-rasul-Nya, percaya kepada kitab-Nya, percaya kepada malaikat-Nya, percaya datangnya kiamat, serta percaya kepada qada dan qadar.[4]

Adapun pintu utama masjid ini bernama “Lawang Bledeg” (pintu petir), yang dipercaya mampu berfungsi sebagai penangkal petir. Lawang Bledeg mengandung candrasengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.[5]

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Zabidi Sayidi

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X