Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia memberikan keuntungan tersendiri untuk perusahaan-perusahaan Indonesia.
Baca Juga: Ini Upaya Kemenag Tangani Kasus Kekerasan Seksual di Pesantren
Dengan menjadi market leader yang kuat di Indonesia, dan didukung dengan data jumah pengguna dan data transaksi, perusahaan Indonesia bisa menjadi salah satu pemain besar di Indonesia, sekalipun beroperasi atau berbisnis sebagian besar di Indonesia.
Pencapaian semacam itu bisa menjadi modal melakukan pengembangan pasar, termasuk di pasar internasional. Modal lain yang dimiliki Indonesia adalah jumlah pengguna media sosial yang besar, namun masih terbatas dengan pengguna aktif yang mengangkat pencapaian-pencapaian yang diraih pelaku ekonomi syariah Indonesia.
Pada Talkshow & Sharing Session I bertajuk “Kolaborasi Pusat-Daerah Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi Syariah”, dihadiri oleh Putu Rahwidhiyasa (Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah KNEKS), Ngatari (Direktur Retail Banking Bank Syariah Indonesia), Iwan (Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur), dan Titis Sri Jawoto (Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Karanganyar).
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (32)
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar, membawa kesempatan untuk dapat mengembangkan ekonomi syariah seperti di sektor keuangan industri halal dan komunitas lain.
Adapun mekanisme ekspor produk Indonesia dengan cap halal rupanya dapat meningkatkan harga dari suatu produk yang membawa kemajuan ekonomi.
Rahwidhiyasa menekankan bahwa, "Menggunakan logo halal di suatu produk sebenarnya dapat meningkatkan harga di beberapa daerah, termasuk negara-negara yang tidak mewajibkan adanya sertifikasi halal seperti Amerika Serikat (AS)."
Baca Juga: Hadirkan Warisan Budaya Bali, Quantum Temple Rilis NFT Collection ‘Paths to Alango’
Upaya ini juga dilihat oleh Jawa Timur dalam meningkatkan ekspor. Meskipun perdagangan luar negeri masih defisit akibat pandemi Covid-19, Jawa Timur masih berhasil surplus di sektor perdagangan antar daerah.
“Tercatat terdapat 3,7 miliar dolar AS terkait ekspor produk halal Jawa Timur dimana 26% masuk ke negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan 73% ke negara non-OKI. Selain itu, kami juga mengimplementasikan program Santripreneur yang didukung Dinas Pendidikan untuk mendorong terciptanya pelaku wirausaha dari pesantren," ujar Iwan.
Sesi kedua Talk Show & Sharing Session, Kolaborasi Komunitas Untuk Percepatan Pengembangan Ekonomi Syariah, dimeriahkan oleh M. Aqil Irham (Ketua BPJPH), Agus Amir (Executive Vice President - Head of Islamic Business & Services PT Bank Muamalat), Putri Dwi Andari (President Hijabers Community), dan Amar Ar Risalah (Content Creator & Writer Muslim).
Baca Juga: Mudik Naik Kereta Api? KAI Ingatkan Aturan Bagasi
M. Aqil Irham, Ketua Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), turut menegaskan kolaboratif yang sukses dapat membawa komunitas dengan nilai Islam mempercepat ekonomi syariah.