Peneliti BRIN Temukan Tiga Ngengat Jenis Baru dari Pulau Sangihe dan Papua

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Sabtu, 17 Februari 2024 | 09:06 WIB
Ngengat Cryptophasa warouwi, termasuk hama endemik baru dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara.  (Humas BRIN)
Ngengat Cryptophasa warouwi, termasuk hama endemik baru dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. (Humas BRIN)

TINEMU.COM - Beberapa peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta tim dari Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi berhasil mengidentifikasi tiga jenis ngengat baru.

Ketiga jenis ngengat baru tersebut adalah Cryptophasa warouwi, Glyphodes nurfitriae, dan Glyphodes ahsanae. Salah satu ngengat yaitu Cryptophasa warouwi, ternyata perlu diwaspadai petani cengkeh karena berpotensi merusak batang dan ranting cengkeh.

Ngengat jenis pertama, Cryptophasa warouwi, termasuk hama endemik baru dari Pulau Sangihe Sulawesi Utara yang perlu diantisipasi potensi serangannya oleh para petani.

Baca Juga: Tingkatkan Daya Angkut, KAI dan Progress Rail Teken Kerja Sama Pengadaan 54 Lokomotif

Penemuan ini akan sangat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang keanekaragaman Cryptophasa di wilayah Wallacea dan menjelaskan status hamanya.

Dua ngengat jenis baru lainnya yaitu Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae diidentifikasi berasal dari Papua.

Salah satu peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN yang terlibat dalam penemuan tersebut, Hari Sutrisno mengungkapkan, larva Cryptophasa dikenal sebagai hama penggerek cabang dan batang.

Baca Juga: Keren! Mister Potato Hadirkan Kemasan Bernuansa Seni dan Budaya Indonesia

Hewan nokturnal ini memotong daun untuk makanan, membuat terowongan dan menutup lubangnya dengan anyaman sutra dan kotoran.

“Pada 2023 aktivitas serangan (hewan) tersebut pernah menyebabkan kerusakan yang bervariasi pada tanaman cengkeh di lima kecamatan Pulau Sangihe, Sulawesi Utara. Infestasinya mengakibatkan kerusakan cabang dan ranting yang menyebabkan penurunan densitas daun pada tanaman cengkeh,” jelas Hari.

Sementara itu, Peneliti PRBE BRIN lainnya, Pramesa Narakusumo menambahkan, sejak tahun 2016 larva jenis ini terpantau mengganggu tanaman cengkeh di Pulau Sangihe dan kemudian di tahun 2023 persebaran jenis ini terus meluas.

Baca Juga: Institut Teknologi PLN Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru, Ada 250 Kuota Program Ikatan Kerja

Lebih lanjut, Pramesa menuturkan, berdasarkan karakter diagnostiknya yang paling khas, ngengat berwarna coklat tua ini terlihat memiliki struktur tegas pada alat kelaminnya.

Selain itu, kode batang DNA menunjukkan spesies baru ini berkerabat di antara spesies Cryptophasa lainnya, meskipun memiliki antena jantan yang mirip dengan genus Paralecta.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: HUMAS BRIN

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X