TINEMU.COM - Menteri Agrikultur, Sumber Daya Hidraulik, dan Perikanan Tunisia, Abdelmonaam Belaati mengapresiasi kemampuan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam melakukan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).
Hal tersebut terungkap dalam pertemuan bilateral antara Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dengan Abdelmonaam Belaati di Posko TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali pada Minggu, 19 Mei 2024.
Dalam pertemuan tersebut, Dwikorita menyebut bahwa Teknologi Modifikasi Cuaca memberikan dampak positif di tengah laju perubahan iklim.
Baca Juga: 'Fall 2' Siap Diproduksi
"Seiring intensitas cuaca ekstrem yang tinggi memang negara kita (Indonesia-red) banyak menderita akibat bencana yang diakibatkannya dan itulah mengapa TMC menjadi salah satu pendekatan mitigasi yang bisa dilakukan pada saat kita terancam," ujarnya.
Dwikorita menjelaskan bahwa operasi TMC dapat dilakukan untuk memitigasi bencana seperti cuaca ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Misalnya, Indonesia pernah mengalami cuaca esktrem yang disebabkan oleh fenomena El Nino pada 2015, 2016, dan 2019 di mana banyak wilayah yang mengalami kekeringan dan kebakaran hutan.
Baca Juga: Peringatan Harbuknas 2024, Peluang Benahi Literasi dan Numerasi melalui Buku Bacaan Bermutu
Akibat kejadian tersebut, banyak kerugian yang disebabkan dan membuat masyarakat menderita. Karena itu, berdasarkan hasil analisis BMKG pada saat El Nino tahun 2023, BMKG telah belajar banyak dan memanfaatkan TMC sebagai bentuk mitigasi terhadap dampak bencana yang dihasilkan.
Diterangkan Dwikorita, pada saat El Nino, sering kali terjadi penurunan air tanah sehingga menciptakan lahan yang sangat kering dan sangat sensitif terhadap kebakaran hutan. Secara alami, jika dahan pohon saling bergesekan, maka kebakaran pun bisa terjadi.
"Nah, TMC bisa digunakan untuk mengantisipasi kebakaran tersebut dengan menyemai awan-awan di wilayah yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan. Data yang dimiliki BMKG, Terdapat sekitar 90 atau 80% pengurangan kebakaran hutan," ujarnya.
Baca Juga: 'Every Breath You Take' The Police Aslinya Lagu Patah Hati
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyampaikan bahwa BMKG telah melakukan cloud sheeding selama lima hari untuk menangani bencana hidrometeorologi banjir bandang dan banjir lahar hujan di Sumatra Barat.
Sebanyak 15 ton garam disemai di wilayah Sumatra Barat untuk menahan intensitas hujan yang cukup tinggi dan berpotensi membawa material vulkanik sisa letusan Gunung Marapi.
Artikel Terkait
BNPB Operasikan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Kelancaran Sail Teluk Cenderawasih 2023
Sukseskan Sail Teluk Cenderawasih, BMKG Lancarkan Operasi TMC
BNPB Gelar Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Awal 2024
Bali Street Carnival Lengkapi Kemeriahan World Water Forum ke-10
Presiden Jokowi Ajak Sejumlah Pemimpin Delegasi World Water Forum Kunjungi Tahura Ngurah Rai