TINEMU.COM - Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang diluncurkan sebagai Merdeka Belajar Episode 17 pada Februari 2022 telah memberikan manfaat dan dampak besar dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa daerah di seluruh Indonesia.
Keberhasilan Program Revitalisasi Bahasa Daerah yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tersebut baru-baru ini juga diakui oleh media internasional, yakni Majalah TIME.
Inisiatif Revitalisasi Bahasa Daerah dapat berjalan dengan baik berkat kerja keras yang dilakukan oleh E. Aminudin Aziz yang menjabat sebagai Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kemendikbudristek.
Baca Juga: Festival Budaya Panji 2024, Upaya Pelestarian Memory of The World
Pria kelahiran Ciamis, Jawa Barat, 57 tahun lalu tersebut adalah tokoh yang berpengaruh dalam menggawangi kebijakan revitalisasi bahasa daerah.
“Berawal dari keprihatinan akan kualitas dan kuantitas bahasa daerah yang mengalami kemunduran, Mas Menteri memberikan arahan kepada Badan Bahasa untuk melaksanakan program Revitalisasi Bahasa Daerah yang tidak hanya berfokus pada pelestarian bahasa daerah tetapi juga pengembangan dan peningkatan relevansinya,” ujar Aminudin.
Hal tersebut penting dilakukan karena bahasa daerah adalah aset yang tak ternilai bagi bangsa. Aminudin sangat menyayangkan jika bahasa daerah mengalami kepunahan dan tidak ada ‘catatan’ tentangnya yang tersisa bagi generasi penerus bangsa.
Baca Juga: Waspada, Banyak Negara Ekonominya Terancam Risiko Bencana Alam
“Maka akan hilang kearifan lokal kita dan pengetahuan yang terekspresikan dan tersimpan dalam bahasa daerah itu,” ungkapnya.
Selain kemampuan bertutur dalam bahasa nasional dan asing, bertutur dalam bahasa daerah bukanlah ‘kampungan’ tapi justru menunjukkan kehebatan. “Pencapaian pada ajang TIME ini akan menjadi semangat baru bagi kawan-kawan yang selama ini mengerjakan program revitalisasi bahasa daerah,” lanjut Aminudin.
Berangkat dari situasi tersebut, ia tergerak untuk menempuh langkah nyata guna menyelamatkan eksistensi bahasa daerah. Misalnya dengan mendokumentasikan secara fisik melalui buku-buku bacaan, tata bahasa, kamus, dan sebagainya, baik dalam bentuk cetak maupun berbentuk digital.
Baca Juga: Hubungan Badai dan Perekonomian di Asia
“Namun, langkah untuk membuat penyelamatan bahasa daerah tersebut lebih luas dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan, harus ada korpusnya terlebih dulu. Korpus yang berisi kumpulan data bahasa dari naskah dan dokumentasi lain serta bahasa lisan berbahasa daerah yang disusun dalam sebuah data raya atau big data,” tuturnya.
Badan Bahasa telah berhasil menggawangi beberapa projek inisiatif untuk merevitalisasi bahasa daerah. Pertama, Kajian Vitalitas Bahasa untuk melihat tingkat daya hidup suatu bahasa yang dipetakan melalui jumlah penutur dan bagaimana pemanfaatan bahasa daerah tersebut.
Artikel Terkait
Revitalisasi Bahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo di NTB
Yuk Ikut Melestarikan Bahasa Daerah Mulai dari Lingkungan Keluarga
Beri Pengalaman Kesehatan yang Personal, Samsung Hadirkan Galaxy AI di Galaxy Watch Terbaru
Sambut Inside Out 2, Samsung, Disney, dan Pixar Buat Video Promosikan Bespoke AI Laundry Combo™
Yoko Takahashi Tolak Penggunaan AI dalam Seni
Kecerdasan Buatan (AI) Akan Jadi Media Seni Berikutnya?