Pram mengetahui nasib bahasa Indonesia. Pada 1954, Pram menulis: “Perkembangan bahasa di waktu akhir-akhir ini nampak tidak dapat mempertahankan kegiatannja lagi seperti di tahun-tahun setelah penjerahan kedaulatan. Banjak orang jang membiarkan kesendatan perkembangan itu dengan sikap masa bodoh dengan tidak mengingat bahwa akibat dari kelambanan ini akan meninggalkan bekas jang tidak menjenangkan berpuluh-puluh tahun lamanja, dan akan lebih dahsjat menghalangi kemadjuan kerohanian pada umumnja.”
Pram tetap menghendaki bahasa Indonesia menguatkan revolusi. Penggunaan bahasa Indonesia dalam beragam tulisan masa 1950-an justru menampilkan kekacauan dan kebingungan.
Kaum berilmu biasa mencibir keterbatasan bahasa Indonesia. Para pengarang menganggap tak ada kewajiban patuh kaidah-kaidah berbahasa Indonesia dalam tulisan.
Baca Juga: Inilah 5 Destinasi Seru untuk Rayakan Imlek
Pram bertumbuh dan rajin menggubah cerita-cerita saat lakon bahasa Indonesia gampang diratapi dan mendapat serangan “omong kosong” dari pelbagai pihak.
Pada masa berbeda, para pembaca tulisan-tulisan Pram di pelbagai majalah lama dan buku-buku terbitan masa lalu mengetahui kesanggupan penggunaan ejaan dan mengokohkan bahasa Indonesia.
Buku-buku terbit pada masa Orde Baru lazim menerapkan EYD. Masalah ejaan dalam buku-buku Pram (lama dan baru) kadang menimbulkan “gosip” di kalangan kolektor.
Konon, mereka menggemari edisi-edisi lama meski terbitan Bumi Manusia berada dalam ketentuan EYD. Kini, kita mengenang Pram mengikutkan masalah ejaan dan selera bahasa berdasarkan masa-masa berbeda. Begitu.**
Artikel Terkait
Fakta Menarik yang Jarang Diketahui Manusia Tentang Elang. Apa Saja?
Yang Jarang Kita Ketahui Tentang Buaya, Apa Itu?
Anda Percaya, Ada Koloni Pohon Berusia Hingga 80 Ribu Tahun?
Banyak Fakta Menarik Monyet yang Tak Kita Ketahui. Simak Yuk!