Katak Terbang yang Hilang Selama 100 Tahun Kembali Ditemukan di Sulawesi

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Senin, 21 Juli 2025 | 11:16 WIB
Katak terbang dari Sulawesi. (Efendi Sabinhaliduna)
Katak terbang dari Sulawesi. (Efendi Sabinhaliduna)

TINEMU.COM - Setelah menghilang selama lebih dari satu abad, katak terbang dari Sulawesi kembali ditemukan oleh tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alamsyah Elang N.H. dan kawan-kawan (dkk) pada Agustus 2023.

Katak ini disebut “terbang” karena memiliki selaput penuh di jari tangan dan kaki yang membantunya melayang saat melompat. Istilah "flying frog" kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago.

Alamsyah, dkk. kemudian menaikkan status katak terbang asal Pulau Sangihe, Sulawesi Utara tersebut menjadi jenis baru, yang diberi nama Rhacophorus rhyssocephalus. Katak ini sebelumnya diketahui sebagai sub-spesies Rhacophorus pardalis yang tersebar luas dari Sumatra hingga Kalimantan.

Baca Juga: Shanna Shannon Suguhkan Karya Emosional Ciptaan Melly Goeslaw

Alamsyah menjelaskan bahwa genus Rhacophorus merupakan bagian dari famili Rhacophoridae, dengan tipe spesies Rhacophorus reinwardtii yang ditemukan di Jawa Barat. Salah satu ciri khasnya adalah adanya tulang penghubung antara ruas jari pertama dan kedua.

“Secara historis, genus Rhacophorus memiliki persebaran yang luas, ditemukan mulai dari India, Cina, Jepang, Malaysia, Indonesia, hingga Filipina. Di Indonesia, wilayah paling timur yang diketahui menjadi habitatnya adalah Pulau Sulawesi,” terang Alamsyah dikutip dari laman brin.go.id pada Senin, 21 Juli 2025.

Saat ini terdapat lima spesies Rhacophorus yang telah teridentifikasi di Sulawesi, yakni Rhacophorus edentulus (Müller, 1894), Rhacophorus monticola (Boulenger, 1896), Rhacophorus georgii (Roux, 1904), Rhacophorus rhyssocepholus (Wolf, 1936, dalam Herlambang dkk. 2025), dan Rhacophorus boedii (Hamidy, Riyanto, Munir, Gonggoli, Trislaksono, dan McGuire, 2025).

Baca Juga: Sisca Saras Sajikan Versi Baru 'Tak Berakhir Sama' Bergaya Retro

Alamsyah menuturkan bahwa hasil ekspedisi selama 20 tahun di Sulawesi menunjukkan adanya beberapa garis keturunan yang berbeda dalam kelompok Rhacophorus. Seluruhnya merupakan endemik di Pulau Sulawesi. Kelompok katak terbang ini diklasifikasikan ke dalam empat grup berdasarkan karakteristik fisik.

Pertama, Grup Batik Cokelat, memiliki corak menyerupai batik dengan moncong yang meruncing. Kedua, Grup Web Hitam, memiliki selaput berwarna hitam di kakinya.

Ketiga, Grup Hijau, berwarna hijau muda dan berukuran lebih kecil. Dan keempat, Grup Pipi Putih, memiliki bercak putih di sebagian pipinya.

Baca Juga: Luna Maya dan Christine Hakim Adu Akting di Film Terbaru Baim Wong!

Kepala Pusat Riset Biosistematika Evolusi BRIN, Arif Nurkanto mengatakan, penemuan terbaru menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki angka nomor dua tertinggi dalam penemuan spesies baru di Indonesia, menandakan tingginya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

“Meskipun penelitian mengenai katak terbang Rhacophorus telah mengungkap beberapa spesies baru dan garis keturunan yang berbeda, masih banyak keanekaragaman amfibi lainnya yang belum teridentifikasi sepenuhnya,” ujar Arif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: brin.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X