Yuk Simak Tips Sukses Menulis Jurnal ala Profesor Universitas Trunojoyo

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Rabu, 29 Desember 2021 | 16:02 WIB
Profesor Universitas Trunojoyo menyampaikan tips sukses menulis jurnal di Webinar Nasional yang digelar SEVIMA pada Selasa, 28 Desember 2021. (SEVIMA)
Profesor Universitas Trunojoyo menyampaikan tips sukses menulis jurnal di Webinar Nasional yang digelar SEVIMA pada Selasa, 28 Desember 2021. (SEVIMA)

TINEMU.COM - Berprofesi sebagai akademisi pasti tak jauh dari kegiatan penelitian dan menuliskannya di jurnal ilmiah. Sebagian kampus mewajibkan mahasiswanya untuk menulis jurnal sebagai syarat kelulusan. Sementara Pemerintah mewajibkan dosen untuk menulis jurnal dalam rangka kenaikan pangkat.

Menulis jurnal tak semudah yang dibayangkan. Tak jarang, menulis jurnal harus dilakukan bertahun-tahun dan menghabiskan dana penerbitan hingga puluhan juta rupiah. Belum lagi jika terjebak calo yang meminta uang untuk penerbitan atau biasa dikenal sebagai jurnal predator

Profesor Arif Muntasa dari Universitas Trunojoyo Madura menyampaikan bahwa menulis jurnal tidak selalu harus seperti itu. Banyak penelitian bisa dilakukan secara gratis, bahkan bisa mendapat hibah atau uang bonus penelitian yang jumlahnya fantastis.

Baca Juga: GAMA-KiDS Tingkatkan Kemampuan Posyandu Deteksi Dini Stunting

“Menulis sebuah jurnal memanglah bukan sebuah kegiatan yang mudah. Tapi sebenarnya ada banyak cara untuk membuat penulisan jurnal menjadi menyenangkan. Jangan sampai kita terjebak jurnal predator dan harus jual motor untuk meneliti!” ungkap Arif didampingi Assoc.Prof. Wahyudi Agustiono, Dosen Universitas Trunojoyo Madura pada Webinar SEVIMA pada Selasa, 28 Desember 2021.

Tips Sukses Menulis Jurnal

Menurut Arif dan Wahyudi, sebelum melakukan publikasi jurnal ilmiah, seorang penulis harus memahami beberapa hal. Agar jurnal yang ditulis dapat terpublikasi, baik di tingkat internasional (Terindeks SCOPUS), maupun di tingkat nasional (Terindeks SINTA), berikut tips untuk menulis jurnal ala Profesor Trunojoyo.

Pertama, akademisi perlu pandai dalam memilih jurnal dan penerbit. Banyak penerbit yang menyediakan secara gratis. Ada juga kegiatan hibah penelitian yang memberi dana untuk melakukan penulisan jurnal, dan mengikuti konferensi internasional.

Baca Juga: Jagung Ungu, Cantik Warnanya dan Kaya Manfaat Bagi Kesehatan

Peluang-peluang ini tersedia luas dan bisa dengan mudah ditemui di internet. Walaupun demikian, memang perlu ketekunan dan ketelitian dalam mengumpulkan informasi tersebut.

Menurut Arif, beberapa publikasi gratis terindeks SCOPUS bisa dicoba. Diantaranya: International Journal of Technology dari Universitas Indonesia (UI), International Journal on Electrical Engineering and Informatic dari Institut Teknologi Bandung (ITB), serta beberapa penerbit jurnal internasional Elsevier, Taylor and Francis, Sage, dan lainnya.

“Kesempatan itu sangat banyak, tapi tidak jarang karena terlalu banyak informasi, kita menjadi bingung,” kata Arif yang sudah menulis 44 artikel jurnal internasional.

Baca Juga: Si Cantik Krisan Bisa Tumbuh Baik di Dataran Rendah

Kedua, belajar dari penolakan. Mirip dengan menerbitkan opini di media massa, penerbitan jurnal juga bisa ditolak. Arif menjelaskan bahwa penolakan sangat wajar. Setelah ditolak, akademisi harus bangkit dan refleksi diri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X