TINEMU.COM - Kebutuhan kapsul lunak (soft capsule) di Indonesia mencapai tiga miliar butir per tahunnya, 90% diantaranya terbuat dari gelatin hewani. Tingginya penggunaan gelatin pada kapsul lunak, bisa disubstitusi menggunakan bahan berbasis vegetable (sayuran) yang ada pada rumput laut sebagai bahan dasarnya.
Di sisi lain, saat ini berkembang pula komunitas vegetarian, yaitu konsumen yang menghendaki makanan yang berasal dari tumbuhan. Dengan perkembangan trend tersebut, produk kapsul lunak berbahan baku rumput laut sangat berpotensi mengisi pasar konsumen vegetarian dan makanan halal.
Plt. Kepala Pusat Teknologi Agroindustri Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PTA OR PPT-BRIN) Arif Arianto mengatakan pihaknya mencari mitra industri dalam rangka hilirisasi hasil riset kapsul laut berbasis rumput laut dengan tujuan upscale ke jumlah produksi yang lebih besar.
Baca Juga: Lakukan Mitigasi Bencana Geologi, Ini Upaya Kementerian ESDM Sepanjang 2021
“Alhamdulillah tahun 2021 lalu, kita dipertemukan dengan PT Nova Chemie Utama (NCU) yang memang bergerak di bidang kapsul lunak. Dari kerjasama tersebut, kita telah berhasil menghasilkan satu prototipe berbasis vegetable di akhir tahun,” terang Arif dikutip Tinemu.com dari website bppt.go.id pada 22 Januari 2022.
Pada 2022, BRIN bersama PT NCU kembali menandatangani perjanjian kerja sama pengembangan formulasi prototipe kapsul lunak berbahan baku rumput laut.
Penandatanganan dilakukan di Gedung Laboratorium Pengembangan Teknik Industri Agro dan Biomedika, PUSPIPTEK, Serpong, pada Rabu, 19 Januari 2022.
Baca Juga: DAMRI Layani Transportasi Wisata ke Danau Toba. Cek Rute dan Tarifnya
Kerjasama ini, terangnya, memiliki prospek yang bagus dan tujuan akhirnya adalah hilirisasi kapsul lunak berbasis rumput laut ke masyarakat.
Direktur PT NCU, Vincent Hasan mengatakan pihaknya merasa tertantang ketika diajak melakukan kerjasama riset kapsul lunak berbasis rumput laut bersama dengan BRIN.
“Dengan teknologi dan sumber daya manusia yang dimiliki NCU dan BRIN, kita telah berhasil menemukan formulasi yang tepat. Kapsul laut tersebut juga telah kami isi dengan sunflower dan soybean,” ungkapnya.
Baca Juga: Mutiara Kata Gus Baha
Vincent berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan riset kapsul lunak bersama BRIN, terlebih menggunakan bahan baku berbasis tumbuhan, yakni rumput laut.
“NCU memiliki spesialisasi di industri kapsul lunak dan mempunyai tujuan menguasai semua lini material bahan bakunya. Harapannya di tahun 2022 kita bisa mendapatkan formulasi yang stabil dan bisa menghasilkan paten,” ujarnya
Artikel Terkait
Museum Zoologicum Bogoriense BRIN, Miliki Jutaan Koleksi Spesimen Fauna
Kantongi Izin Edar Kemenkes, BRIN Klaim RT-LAMP Bisa Deteksi Varian Omicron
Enam Begonia Jenis Baru Ditemukan Peneliti BRIN di Sumatra
Mengenal Kebun Raya Cibinong BRIN, Platform Riset dan Konservasi Tumbuhan Berkonsep Ekoregion
InaCC BRIN, Pusat Penyimpanan Koleksi Mikroorganisme Indonesia