Kentang Bio Granola Tahan Penyakit Busuk Daun

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Selasa, 5 April 2022 | 11:47 WIB
Balitbangtan berhasil melakukan pemuliaan yang menghasilkan kentang produk rekayasa genetik (PRG) Bio Granola yang tahan penyakit busuk daun. (litbang.pertanian.go.id)
Balitbangtan berhasil melakukan pemuliaan yang menghasilkan kentang produk rekayasa genetik (PRG) Bio Granola yang tahan penyakit busuk daun. (litbang.pertanian.go.id)

TINEMU.COM - Meskipun bukan merupakan makanan pokok, konsumsi kentang oleh masyarakat Indonesia cenderung terus meningkat terutama dalam bentuk kentang olahan seperti kentang goreng (french fries) dan keripik (chip).

Namun pemanfaatan kentang yang cocok digunakan sebagai makanan olahan seperti varietas Atlantic, masih bergantung pada impor.

Produksi kentang di Indonesia masih didominasi oleh kentang varietas Granola yang mencapai areal tanam lebih dari 80% dan tersebar di daerah pertanaman kentang di dataran tinggi.

Baca Juga: ImersifA, Ruang Interaksi Baru di Museum Nasional

Selain varietas Granola, kentang varietas Atlantic juga banyak diminati karena mutu olahannya yang sangat baik. Namun kedua varietas tersebut, Granola dan Atlantic, mempunyai sifat rentan terhadap penyakit busuk daun P. infestans.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) berhasil melakukan pemuliaan yang menghasilkan kentang produk rekayasa genetik (PRG) Bio Granola.

“Bio Granola ini dirakit sebagai satu solusi untuk menghasilkan kentang yang tahan penyakit busuk daun atau hawar daun,” ungkap Dr Edy Listanto, tim peneliti kentang Bio Granola dari BB Biogen.

Baca Juga: Awasi Produksi dan Distribusi Minyak Goreng Curah, Kemenperin-Polri Bentuk Satgas Gabungan

Mengutip laman litbang.pertanian.go.id, Edy menjelaskan, salah satu penyakit utama yang menyebabkan kerusakan pada tanaman kentang adalah penyakit busuk daun atau biasa disebut hawar daun (late blight).

Para petani kentang sering mengalami kerugian besar hingga gagal panen akibat penyakit yang disebabkan oleh Phytophthora infestans ini khususnya saat curah hujan tinggi.

“Dengan menanam kentang Bio Granola, para petani tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli pestisida dan melakukan penyemprotan lagi. Bahkan petani bisa memperoleh hasil panen hingga 25-30 Ton per hektare dibandingkan kentang varietas lainnya yang hanya 15 Ton per hektare,” imbuhnya.

Baca Juga: Tolak Usulan Bahasa Melayu Jadi Bahasa Resmi ASEAN. Mendikbudristek: Bela Bahasa Indonesia!

Kentang Bio Granola merupakan hasil silangan dari kentang varietas Granola dengan kentang produk rekayasa genetik (PRG) event Katahdin SP951.

Ciri utama kentang ini umbinya berbentuk oval, daging umbi berwarna putih dan memiliki ukuran panjang 12,5 - 13,4 cm dan diameter 7,36 - 7,65 cm serta berat per umbinya 95 - 140 g.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: litbang.pertanian.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X