Eco Lindi, Cairan Penetral Bau Sampah

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Sabtu, 4 Juni 2022 | 10:14 WIB
Mahasiswa UGM, Raina Nura Anindhita berhasil mengolah air lindi menjadi formula untuk menetralkan bau sampah bernama Eco Lindi. (Humas UGM/Firsto)
Mahasiswa UGM, Raina Nura Anindhita berhasil mengolah air lindi menjadi formula untuk menetralkan bau sampah bernama Eco Lindi. (Humas UGM/Firsto)

TINEMU.COM - Air lindi atau cairan yang dihasilkan dari pemaparan air hujan di tumpukan sampah masih menjadi persoalan lingkungan. Tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, air lindi juga membahayakan lingkungan dan bisa berdampak kesehatan jika tidak diolah dengan benar.

Namun, di tangan Mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Raina Nura Anindhita, air lindi berhasil disulap menjadi sesuatu yang bernilai guna. Raina berhasil mengolah air lindi menjadi formula untuk menetralkan bau sampah bernama Eco Lindi.

“Eco Lindi ini dibuat dari air lindi dicampur dengan sisa air tebu (molase), asam sulfat, dan katalis organik dan hasilnya terbukti bisamenghilangkan bau tak sedap sampah,” jelasnya pada Jumat, 3 Juni 2022.

Baca Juga: LRT Jabodebek Segera Beroperasi, KAI Terapkan Sistem Pembayaran Non Tunai

Gadis asal Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo ini memaparkan pembuatan Eco Lindi cukup sederhana dan mudah. Air lindi, molase, asam sulfat dan katalis dicampur dalam satu wadah kedap udara atau tangki. Dalam satu hari bisa memproduksi 10 ribu liter Eco Lindi.

Sementara untuk penggunaannya, lanjutnya, cairan hanya disemprotkan ke timbunan sampah. Dalam waktu kurang dari 10 menit Eco Lindi akan bereaksi menetralkan bau sampah.

“Reaksinya sekitar 3-10 menit setelah disemprotkan ke sampah tidak tercium bau lagi,” terangnya.

Baca Juga: Keren! Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Gelar Upacara Bendera di Bawah Laut

Eco Lindi telah diujicobakan untuk mengatasi persoalan bau di tempat pembuangan akhir (TPA) dan lingkungan pasar. Selain itu juga di peternakan. Hasilnya, formula ini dinyatakan aman untuk ternak.

“Formula ini dapat diaplikasikan di semua limbah yang memproduksi bau selain itu juga bisa digunakan sebagai pupuk,” tuturnya.

Raina mengungkapkan pengembangan Eco Lindi ini hasil dorongan dari sang ayah yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Sidoarjo. Ia ditantang ayahnya untuk ikut mencari solusi atas persoalan sampah di TPA, terutama mengatasi bau sampah.

Baca Juga: Menparekraf Sandiaga Uno Sambangi Para Superhero di Marvel Studios Exhibition

“Proses penetralan bau dan komposting yang biasa dilakukan memerlukan waktu sekitar 6-8 minggu. Saya ditantang ayah untuk mempersingkat waktu menghilangkan bau dan setelah melalui diskusi dan berbagai kajian akhirnya ketemulah formulasi Eco Lindi ini,” katanya.

Inovasi yang dikembangkan Raina ini tidak hanya memberikan alternatif solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan. Namun juga berhasil menyabet penghargaan Trash Control Heroes dari Bupati Sidoarjo Ahmad Muhdlor.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Humas UGM

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB
X