Film Taking Woodstock (2009) : Woodstock 1969 Dari Dekat Sekali

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Jumat, 22 September 2023 | 13:25 WIB
Cuplikan Film Taking Woodstock 1969 (Tangkap Layar Youtube)
Cuplikan Film Taking Woodstock 1969 (Tangkap Layar Youtube)

TINEMU.COM - Musim semi 1969, Elliot (Demetri Martin), seorang desainer, terjebak di El Monaco Motel. Bisnis penginapan yang dijalankan kedua orangtuanya pailit, terdesak utang bank. Elliot berhasil membujuk bank agar mengundurkan tenggat pembayaran hingga musim liburan selesai.

Di dapur rumahnya, Elliot membaca penolakan Wallkill untuk menyelenggarakan Woodstock Music & Art Fair. Padahal, Woodstock bukan acara sembarangan. Pengelolanya Michael Lang, John Roberts, Joel Rosenman, dan Artie Kornfeld meniatkan Woodstock sebagai semacam gerakan sosial baru yang juga menyerukan perdamaian. Beberapa artis ternama sudah mengonfirmasi akan tampil, misalnya Joan Baez, Grateful Dead, Ravi Shankar, Janis Joplin, dan Jimmy Hendrix.

Pada saat yang sama, perang Vietnam menandai perseteruan dua ideologi terbesar dunia saat itu: Barat melawan Komunis. Elliot menghubungi Lang untuk menawarkan White Lake sebagai tuan rumah penyelenggaraan. Singkat cerita, Elliot membawa Lang dan kawan-kawan ke perkebunan milik Max Yasgur. Festival tiga hari, yang kemudian molor sehari, digelar di halaman kota berpenduduk mayoritas Yahudi itu.

Baca Juga: Killing Bono: ketika Sobatmu Ternyata adalah Rivalmu

Diangkat dari buku memoir berjudul sama karya Elliot Tiber dan Tom Monte, film rilisan 2009 karya sutradara Ang Lee ini banyak menceritakan hubungan Elliot dan kedua orangtuanya yang konservatif.

Imelda Staunton tampil mengesankan sebagai ibunda Elliot yang galak dan jarang tersenyum, tapi senang uang. Sang ayah, diperankan Henry Goodman, tak banyak omong dan cenderung menyimpan perasaan untuk dirinya sendiri.

Woodstock kemudian tak hanya berhasil sebagai sebuah gerakan sosial generasi muda, tapi juga berhasil mengubah hubungan keluarga Yahudi tersebut.

Ang Lee mengerahkan banyak figuran serta kendaraan untuk menyajikan kondisi festival yang sebenarnya. Teknik split-screen juga digunakan dalam beberapa adegan. Hanya sayangnya film ini tak menampilkan secuil pun grup musik maupun penyanyi yang tampil dalam pagelaran musik legendaris tersebut.

Baca Juga: Mengapa Film Biopik Indonesia (Banyak yang) Gagal?

Film unik karya sutradara yang pernah melahirkan film The Wedding Banquet (1993), Crouching Tiger (2000), dan Life of Pi (2012) tampaknya mencoba pendekatan lain dalam menceritakan kisah di balik layar Woodstock.

Pendekatan tersebut memancing kontroversi di kalangan pengamat film. Tentu saja keberatan atas keputusannya tak menampilkan secuil pun penyanyi atau grup musik yang tampil.

Mereka diantaranya yang keberatan dari majalah Slate, The Village Voice,dan The New York Post. Sedangkan dari The New York Times dan Chicago Tribune film ini mendapat reaksi positif. Misalnya Michael Phillips dari Chicago Tribune menyebut film ini uniknya seperti mosaik dengan banyaknya keluar masuk para karakter yang tengah sibuk menyiapkan acara festival musik secara serampangan.

Terlepas dari kontroversi tersebut, film ini mencoba pendekatan lain secara dekat sekali tentang bagaimana membuat acara festival musik yang tak berhenti sekedar sebagai perayaan musik saja.**

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X