TINEMU.COM - Mungkin ada yang tidak setuju dengan judul tulisan ini sambil menyodorkan data-data perolehan jumlah penonton film-film biopik kita yang kini mudah didapat - salah satunya dari filmindonesia.or.id.
Memang tak semua tokoh cukup bagus difilmkan, barangkali karena kisah hidupnya tidak dramatis (alias lurus-lurus saja tanpa gejolak) atau cara penceritaannya yang memang kurang baik. Sejumlah aspek dramatik sah-sah saja dilakukan sebagai siasat untuk memudahkan penceritaan. Beberapa film biopik lainnya dari mancanegara juga kerap melakukan hal itu (dramatisasi).
Namun tulisan pendek ini tidak berupaya menyinggung soal apa dan bagaimana teknis soal dramatisasi film biopik. Saya hanya mencoba menengarai mengapa untuk pembuatan film jenis ini relatif kurang berhasil baik dari segi mutu dan penceritaan.
Baca Juga: Film Ininnawa, Sebuah Kritik untuk Sistem yang Gagal
Pertama-tama untuk menengarai masalah ini, tak lain dari sumber utama pembuatan film biopik itu sendiri yang salah satunya bersumber dari penulisan dan penerbitan buku-buku biografi. Buku biografi rata-rata kebanyakan yang beredar di toko buku kita baik daring maupun luring tak lebih dari catatan prestasi (mirip-mirip Curriculum Vitae yang dinarasikan panjang-panjang) atau glorifikasi tokoh semata. Umumnya biografi mantan pejabat, politikus, perwira tentara dan pengusaha.
Meski saya juga mencatat “tak semuanya begitu” tak bisa terhindari resiko “glorifikasi tokoh” lantaran objek yang ditulis juga mendanai penerbitan dan biaya cetak bukunya. Apalagi sejumlah alasan buku tersebut juga dibagikan kepada sejumlah relasi bisnis. Jadi, mohon maaf, janganlah “tokoh kita” ini dituliskan kekurangannya. Semuanya harus bagus-bagus, nyaris tanpa cela!
Sampai di sini alasan “glorifikasi” atau mengagungkan sang tokoh (agak) sedikit bisa diterima-karena belum sampai layak atau tidaknya “tokoh kita” diangkat menjadi karya visual atau film. Tapi dengan berbagai keengganan dan juga alasan apa dulu buku biografi yang diterbitkan guna menambah relasi- tentu sangat jauh dari harapan mengingat buku biografi yang kebanyakan terbit adalah “pesanan pemilik modal”.
Baca Juga: 90 Tahun Majalah Panjebar Semangat
Hal ini tak hanya memperburuk pembuatan film biopik melainkan dari penerbitan buku biografinya sendiri yang tidak memadai. Padahal tokoh sebesar apapun jika dikurangi unsur glorifikasinya bukan bermaksud menjelekkan atau menurunkan pamornya sebagai “tokoh” melainkan sekedar mengingatkan kepada publik bahwa “tokoh kita” yang dibukukan (pun) kelak akan difilmkan tetap saja manusia biasa.
Mungkin ada sejumlah pilihan yang dilakukan yaitu dramatisasi setelah sebelumnya melakukan pilihan mana dulu biografi yang akan difilmkan. Film biopik Habibie misalnya akhirnya ditempuh cara untuk membuat filmnya ketika masih belajar di luar negeri dan memang ada di bukunya. Kisah ini dianggap yang layak difilmkan apalagi juga mungkin dianggap produser lebih mudah diterima semua kalangan karena ada kisah romansanya.
Film biopik grup band Slank juga yang dipilih adalah masa bergabungnya Ridho, Ivan, Abdee, bukan era Pay, Indra, Bongky. Tapi lagi-lagi rasanya tetap saja terasa artifisial lantaran sumber aslinya (catatan film biopic Slank Nggak Ada Matinya rilis 2013 bukan dari buku biografi melainkan langsung data-data yang diolah menjadi skenario film).
Baca Juga: 50 Tahun, Dakwah, dan Majalah
Sekali lagi, kalau dari salah satu sumbernya “kurang beres” (buku biografi) tentu bak “jauh panggang dari api” mendambakan film biopik yang baik terlebih dahulu- meskipun lagi-lagi ada alasan, sekedar film/sinetron biopic Dewa 19 (rilis 2004) misalnya-tidak bersumber dari buku. Satu hal yang sulit dipungkiri adalah rata-rata film biopik yang baik berasal pula dari buku yang baik pula penulisannya. Tidak bersumber dari buku biografi bukan alasan karena lagi-lagi yang dibutuhkan keterampilan menulis naskah yang baik terlebih dulu.
Filsuf Amerika Mortimer J. Adler, pengajar di Universitas Chicago dan Columbia pernah berujar “Great Ideas from Great Books” yang kemudian dia jadikan bukunya yang terbit pada 1976. Idenya masih terasa evergreen alias tak ketinggalan zaman. Bahkan bisa diterapkan di semua bidang, tak hanya film.
Kedua, sungguh ironis adalah jika kita menyadari dan merasakan era jauh sebelum sosmed, dan sekarang era sosmed. Satu hal yang tak berubah hingga kini adalah kebanyakan masyarakat masih senang sekali mengonsumsi gosip.
Artikel Terkait
Arkeolog Tolak Pemasangan Chatra Borobudur, Kemenag Jelaskan Perspektif Keagamaannya
Marga T dalam Dua Foto Lama
Prof. Melani Budianta Terima Penghargaan Sarwono Award 2023
Penalti
Pendirian Sekolah Adat, Upaya Lestarikan Adat Marapu di Sumba Timur