Asta Kiri Mengulas Era Kelam di Mini Album Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Minggu, 3 Desember 2023 | 11:31 WIB
Cover mini album berjudul Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka dari Asta Kiri. (Dok. Asta Kiri)
Cover mini album berjudul Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka dari Asta Kiri. (Dok. Asta Kiri)

TINEMU.COM - Asta Kiri, sebuah unit hip-hop asal Purwokerto baru saja merilis mini album (EP) perdananya berjudul "Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka" melalui platform musik digital (Bandcamp) dan dalam bentuk fisik yaitu CD.

Asta Kiri memilih judul Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka yang memiliki arti terkalahkan dan meninggalkan alamnya Sarpakenaka.

Pemilihan judul tersebut tercetus pada 2021 ketika Asta Kiri membaca berita tentang aksi gabungan seniman Yogyakarta yang melarungkan 5 tokoh wayang antagonis (salah satunya adalah Sarpakenaka) di Pantai Parangkusumo. Aksi tersebut merupakan sebuah respon atas kasus Ratna Sarumpaet pada tahun 2018.

Baca Juga: Kelompok Bermain di Semarang Inisiasi Pelatihan Kurikulum Merdeka bagi Orang Tua

Sarpakenaka adalah sebuah tokoh wayang yang memiliki sifat sapa sira ingsun (congkak), serakah, dan liar. Sifat buruk yang dimiliki oleh Sarpakenaka menjadi landasan utama dalam pembentukan narasi pada Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka.

Dalam perspektif Asta Kiri sejak tahun 2021 hingga 2023 terjadi berbagai kejadian di luar nalar yang disebabkan oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh Sarpakenaka.

Mulai dari anak muda di Banyumas yang suka sekali memamerkan kenakalannya, seorang ayah yang berhubungan inses dengan anak kandungnya demi ilmu kesaktian, hingga hiruk pikuk wakil rakyat yang memusingkan.

Baca Juga: Pentingnya Kenali Diri dan Lingkungan di Usia Remaja

Sebagai sebuah kesatuan, Kawon Tilar Jagad Sarpakenaka dibuka dengan sebuah track instrumental berjudul Inangnjero yang berarti tuan rumah untuk diri sendiri.

Track tersebut menyisipkan beberapa potongan film Sang Penari sebagai bentuk wujud pengenalan serta pelestarian Lengger yang dibalut dengan alunan jazz milik Yusef Abdul Lateef.

Album dilanjutkan dengan Kawone Era Sumungah yang berarti matinya zaman kebaikan. Track ketiga berjudul Srintil, Inang Bumantara (Pts. 1-3). Track tersebut merupakan respon terhadap novel Ronggeng Dukuh Paruk milik Ahmad Tohari.

Baca Juga: Penonton Piala Dunia U-17 di Indonesia Lampaui Target FIFA

Sebagai lanjutan dari Inangnjero, track ini juga merupakan bentuk wujud pengenalan dan pelestarian Lengger yang merupakan kebudayaan yang lahir di jagad Banyumas.

Di belakangnya, Dansa Kumbakarna adalah track instrumental yang dibuat ketika membayangkan “Apa yang dilakukan oleh Kumbakarna setelah berhasil membantai lebih dari 8000 pasukan kera setelah tidur panjangnya? Apakah ia sempat berdansa?”

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Doper Official

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X