Dewa Budjana Garap Tribute to Benny Soebardja

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Kamis, 31 Oktober 2024 | 09:31 WIB
artwork My Life  (Rama Nalendra)
artwork My Life (Rama Nalendra)

artikel khusus dan foto oleh Mudya Mustamin

TINEMU.COM-Benny Soebardja adalah salah satu musisi rock legendaris Tanah Air yang bisa dibilang underrated. Kehadirannya nyaris tersamarkan ingar-bingar band rock populer era 70-an lainnya macam God Bless, The Rollies atau AKA.

Padahal tidak dapat dipungkiri, sepak terjang Benny di masa itu tergolong sangat berani melawan arus tren. Pionir sebagai musisi independen yang menciptakan dan memainkan lagu karya sendiri. Berbeda dibanding band-band lain yang kebanyakan cenderung meng-cover lagu-lagu tenar mancanegara.

Lewat Shark Move, band yang dibentuknya di Bandung, Jawa Barat pada 1970, Benny dan personel lainnya menyalurkan kreativitas musikalnya dengan merangkai sebuah album rekaman bermuatan lagu-lagu karya orisinalnya sendiri.

Baca Juga: Album 'Bhavitra' Sisi Selatan Tampilkan Eksplorasi Baru

Shark Move yang digerakkan formasi Benny (vokal/gitar), Soman Loebis (keyboard/piano), Janto Diablo (flute/bass), Sammy Zakaria (dram) dan Bhagu Ramchand (vokal/promosi) merekam album pertamanya (sekaligus yang terakhir), Ghede Chokra’s pada 2 Januari 1970, di Musica’s Studio. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, judul album itu berarti Great Session.

Nah, salah satu komposisi lagu karya Benny Soebardja di album yang dirilis pada 1973 itu, berjudul My Life menjadi salah satu daya tariknya. Berdurasi hampir 9 menit, dan sarat bauran nuansa psychedelic dan progressive rock (atau kerap pula disebut ‘art rock’ pada jaman itu).

berdiri:Budhy Haryono, Dewa Budjana duduk: Benny Andy /Rif
berdiri:Budhy Haryono, Dewa Budjana duduk: Benny Andy /Rif (foto Mudya Mustamin)

Kini, fast-forward ke lebih dari setengah abad kemudian, tepatnya tahun ini, My Life dihidupkan lagi oleh gitaris dan music director Dewa Budjana. Versi kali ini menampilkan duet Benny Soebardja dan Andy /rif di lini vokal, dan disuguhkan lewat racikan aransemen berelemen acoustic strings quartet. Lebih fresh dan kekinian.

Baca Juga: POTRET Rilis Album Live : Lagu Hits Kemasan Baru

Ihwal ide mendaur ulang My Life sendiri berawal saat Budjana, dramer Budhy Haryono dan Irvan Temons (The Temon’s Berkesenian) menghadiri acara peluncuran piringan hitam (vinyl) Benny Soebardja di helatan Record Store Day Indonesia, di Senayan Park (Spark), Jakarta pada April 2024 lalu.

Secara spontan, ketiganya berucap "Yuk bikin album tribute Benny Soebardja!". “Memang awalnya akan bikin album dengan aransemen baru dan (berkolaborasi) dengan beberapa aranjer. Kami memilih Budhy Haryono sebagai koordinator ke musisi-musisi (pendukung)-nya,” ujar Budjana mengungkap latar belakang idenya.

Kendati demikian, sejauh ini, untuk sementara proyek ini baru dimulai dengan peluncuran single My Life lantaran masih terbentur sejumlah kendala. Bagi Dewa Budjana, salah satu alasan untuk membuat proyek tribute ini karena memang sejak masih duduk di bangku SD, ia sudah menggemari karya-karya Benny Sorbardja. Bukan hanya di Shark Move, namun juga di Giant Step, band Benny berikutnya.

Baca Juga: Aransemen Baru dan Nyawa Baru The Titans

“Aku nonton band pertama ketika kelas 5 SD, kebetulan lagi liburan ke Surabaya, ya Giant Step ini. Dan sejak itu jadi penggemar mereka. Kebetulan kakak pertamaku kuliah di Bandung, dan hobi bawa pulang ke Bali kaset-kaset Giant Step, Shark Move, Harry Roesli…. Jadi aku sangat tahu dan hafal tentang Giant Step. My Life adalah lagu masa kecilku,” tutur Budjana mengenang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X