Ironi Layar Perak, di mana Industri Perfilman Indonesia Berjalan Timpang Karena Distribusi Terbatas

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Jumat, 31 Januari 2025 | 14:23 WIB
Ilustrasi Para Penonton Bioskop di Indonesia (Grok)
Ilustrasi Para Penonton Bioskop di Indonesia (Grok)

TINEMU.COM - Industri film Indonesia sedang berada di puncak kejayaannya. Jumlah penonton melonjak drastis, film-film lokal berhasil menumbangkan dominasi Hollywood, dan gairah sineas semakin membara.

Menurut data dari goodstats, pada tahun 2024, total penonton film Indonesia mencapai 60.158.548 hingga September, menandai rekor tertinggi sejak tahun 1926 dan untuk pertama kalinya mengungguli jumlah penonton film impor di bioskop Indonesia.

Namun, di balik euforia itu, ada sebuah ironi yang mencengkeram erat: distribusi film Indonesia masih dikuasai oleh segelintir orang (baca pengusaha) saja!

Cinema XXI, dengan kendali atas sekitar 59% layar bioskop nasional, menjadi gerbang utama yang menentukan film mana yang boleh ditonton masyarakat dan mana yang harus tersisih ke ruang tunggu tanpa kepastian.

Baca Juga: Pejabat Naik Transportasi Umum, Langkah Kecil Menuju Kesetaraan Sosial

Menurut data dari Kontan, Cinema XXI, adalah jaringan bioskop terbesar di Indonesia, mengoperasikan 248 bioskop dengan total 1.317 layar di 61 kota/kabupaten hingga 30 Juni 2024.

Para pengusaha rumah produksi yang telah menguras tenaga, pikiran, dan dana besar untuk menciptakan karya mereka, tengah menghadapi isu yang belum terpecahkan solusinya!

Menurut  info, ada lebih dari 100 judul film sedang menunggu giliran tayang di tahun 2025, tetapi kenyataan yang lebih pahit lagi adalah, film yang diproduksi pada awal 2025 belum tentu bisa muncul di layar lebar hingga tahun 2026, atau bahkan lebih lama.

Baca Juga: Menpar Widiyanti Bertemu Raffi Ahmad Bahas Kolaborasi Promosi Pariwisata

Artinya, secara ekonomi, ada perputaran uang yang mandek di sana! Anggap satu produksi menghabiskan dana 10 milyar rupiah, jika dikalikan dengan 100 judul film, maka ada investasi sebesar 1 triliun yang tidak berputar di dalam industri perfilman kita selama 1 tahun.

Padahal kita tahu bahwa ada banyak potensi penonton yang kabar terakhir bisa mencapai 80 ribu orang yang menjadi target dari investasi yang sudah digelontorkan dalam pembuatan film-film baru itu.

Ini adalah momentum emas yang seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan perfilman nasional. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya: film-film Indonesia seperti anak-anak yang ingin pulang ke rumah sendiri, tetapi pintunya terkunci rapat.

Baca Juga: Keren! SMK Bakti Karya Parigi Jalankan Program Pendidikan Multikultural

Hal ini membuat seolah tidak ada ruang bagi film-film baru untuk bernafas, sementara bioskop-bioskop lain pun memilih bersikap pasif, takut rugi jika tidak mengikuti keputusan jaringan dominan.

Sistem yang ada saat ini tidak lagi sekadar persoalan bisnis, tetapi juga menyentuh aspek keadilan dan ekosistem budaya yang lebih luas. Film adalah cerminan bangsa, medium yang mengisahkan realitas sosial, mimpi, dan identitas kolektif.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X