Film Meninggalkan Novel

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Rabu, 14 Mei 2025 | 07:32 WIB
Novel Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Novel Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

TINEMU.COM - Halaman-halaman kertas mulai berlepasan. Buku tak terjilid kuat. Buku telah terpegang orang-orang dari masa lalu. Rusak atau hancur itu lumrah.

Pada masa 1990-an, buku kecil itu menjadi koleksi di Perpustakaan Permata, Wisma Mahasiswa Surakarta. Kartu di halaman belakang mencantumkan 24 kali peminjaman.

Buku digemari kaum mahasiswa ingin mengerti sejarah dan menilik kesanggupan pengarang memunculkan kritik. Novel terkenal digubah oleh Mochtar Lubis.

Sejak masa 1950-an, Mochtar Lubis tampil sebagai pengarang dan jurnalis berani berhadapan dengan kekuasaan. Novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung (1952) turut menjadi kritik atas lakon Indonesia setelah proklamasi.

Pengarang mengundang pembaca dalam halaman-halaman (masa) revolusi.

Mochtar Lubis, nama penting dalam sastra dan pers. Dulu, para mahasiswa di Surakarta membaca itu dipengaruhi “kesangaran” Mochtar Lubis. Pengabdian di pers dan sastra membuat Mochtar Lubis biasa “dihukum” penguasa dan bentrok dengan sesama pengarang berpijak ideologi.

Pada masa berbeda, buku kecil itu berada di pasar buku loak (Gladag). Buku ditumpuk bareng novel-novel Marga T, Abdullah Harahap, Ashadi Siregar, Maria A Sardjono, dan lain-lain.

Novel hampir rusak dibeli dengan harga murah. Pembeli itu menemukan masa lalu. Ia menjadi pemegang buku setelah para mahasiswa masa 1990-an berhasil khatam. Novel terbaca lagi mumpung ada pemutaran film baru. Konon, film itu bereferensi Jalan Tak Ada Ujung.

Pada 1 Mei 2025, tanggal di kalender berwarna merah. Pembaca itu bergerak menuju pusat perbelanjaan bermaksud masuk bioskop untuk menonton film berjudul Perang Kota.

Siang dikutuk sinar matahari. Di ruangan gelap dan dingin, ia duduk merasakan kekagetan melihat Ariel Tatum. Sekian detik membenahi imajinasi. Di film, perempuan itu bernama Fatimah, bukan Ariel Tatum.

Pembaca terbiasa mengingat nasib Guru Isa, bukan Fatimah. Sejak di sekolah, novel-novel persembahan Mochtar Lubis masuk dalam buku pelajaran bahasa Indonesia.

Murid sedikit mengetahui sinopsis novel. Nama tokoh mudah terkenang: Guru Isa. Novel memang mengisahkan Guru Isa meski saat menonton film tampak pesona Fatimah.

Di film, Fatimah itu perempuan menanggungkan kemiskinan. Sosok berani melawan serdadu. Ia tak takut darah.

Ilustrasi Perang Kota
Ilustrasi Perang Kota (Chat GPT)

Hidup tetap harus bergerak meski sulit beras dan ruwet dalam pernikahan. Sosok menderita bersaing dengan ketakutan dan nelangsa Guru Isa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X