Dendam Berujung Teror Santet, Film 'Kitab Sijjin & Illiyyin' Siap Tayang 17 Juli!

photo author
Donny Anggoro, Tinemu
- Kamis, 10 Juli 2025 | 09:32 WIB
Lele Laila mengungkapkan proses kreatifnya saat jumpa pers di Epicentrum XXI (foto DoRo Conspiracy)
Lele Laila mengungkapkan proses kreatifnya saat jumpa pers di Epicentrum XXI (foto DoRo Conspiracy)

TINEMU.COM—Film Kitab Sijjin dan Illiyyin mengikuti perjalanan Yuli (Yunita Siregar), seorang gadis yang tulus dan baik. Perangainya berubah menjadi penuh dendam karena kehilangan rumah, ditinggal mati orang tua, dituduh anak selingkuhan, dan diperlakukan seperti pembantu oleh keluarga Ambar (Djenar Maesa Ayu). Yuli meminta bantuan seorang dukun untuk membalaskan dendamnya dengan menyantet keluarga Ambar, yaitu Laras (Dinda Kanya Dewi), Rudi (Tarra Budiman), Dean (Sulthan Hamonangan), dan Tika (Kawai Labiba). Namun, santet yang disarankan ternyata sangat mematikan. Yuli diharuskan melakukan ritual dalam waktu satu minggu dengan memasukkan nama-nama target santet ke mayat yang baru meninggal. Berhasilkah Yuli membalaskan dendamnya?

Kitab Sijjin & Illiyyin film horor persembahan Rapi Films bersama Sky Media, Rhaya Flicks, Legacy Pictures, dan Narasi Semesta, akan tayang di bioskop tanah air mulai 17 Juli 2025. Mengangkat kisah tentang Sijjin dan Illiyyin, dua kitab dalam agama Islam yang mencatat amal perbuatan orang-orang durhaka dan orang-orang berbakti dan saleh. Film ini disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu dan diproduseri oleh Gope T Samtani. Skenarionya ditulis oleh Lele Laila (KKN di Desa Penari) diperankan Yunita Siregar, Dinda Kanyadewi, kawai Labiba, Tarra Budiman, Djenar Maesa Ayu dan David Chalik.

Dengan durasi 100 menit, juga setting di perkampungan Jawa Barat sekitar tahun 1990-an film ini mencoba menawarkan ketegangan intens tanpa jeda. Mengusung cerita yang tidak terlalu bertele-tele, amarah dan dendam hingga berujung pada teror santet atau ilmu hitam, film ini menjadi unik di tengah beredarnya film-film horor Indonesia (terutama sejak popularitas film serial Danur) didominasi horor bertemakan remaja yang diperuntukkan 13 tahun ke atas. 

Baca Juga: Epy Kusnandar Hantui Anaknya di Film 'Selepas Tahlil', Kok Bisa?

Spesial efeknya yang cenderung pratical effect atau menggunakan properti yang langsung didesain untuk kebutuhan adegan, membuat kengeriannya tampak nyata. Misalnya sosok mayat yang dibungkus menjadi pocong memang didesain sebesar tubuh aktor yang memerankannya, Djenar Maesa Ayu. Aktris yang semula dikenal sebagai penulis cerpen dan novel ini mengaku terkesan meski ia beresiko dirias dengan make up tebal sangat lama. "Saya berterimakasih kepada pocong betulan,jadi tahu rasanya bernafas dengan hidung ditutup kapas,badan dibungkus kain kafan," katanya sambil berseloroh. 

official poster Kitab Sijjin
official poster Kitab Sijjin (dok Rapi Films)

"Saya memang melakukan riset cukup mendalam, hingga mengunjungi daerah-daerah yang dikenal terdapat dukun santet betulan. Mereka memang ada yang langsung to the point menanyakan kepada tamunya 'ini mau mati, cacat, atau sakit korbannya?'" jelas Hadrah Daeng Ratu, sutradara saat jumpa pers di Epicentrum XXI (9/7). 

Lele Laila, penulis skenarionya yang namanya melambung salah satunya berkat film horor KKN di Desa Penari (2022), juga mengakui salah satu tantangan tersendiri menggarap film ini adalah membuat adegan yang tampak realistis. "Pak Sunil Samtani sebagai produser eksekutif kerap merevisi adegan yang sudah dirancang, katanya yang ini kurang serem, lebih serem lagi dong," ungkap Lele Laila. 

Baca Juga: Diangkat dari Kisah Nyata, Film 'Sihir Pelakor' Siap Tayang 31 Juli!

Tanpa bermaksud melebihkan, film ini akhirnya memang berhasil memberi kengerian serta teror secara intens selama 100 menit. Beberapa adegan dengan hanya mengandalkan mimik muka, tanpa pergerakan fisik berlebihan juga menguatkan film ini. Dengan setting di desa seolah mengingatkan kepada penonton pada kengerian film-film horor klasik Indonesia karya sutradara era 1980-an, Sisworo Gautama Putra (Sundel Bolong, Ratu Ilmu Hitam)-apalagi film ini sangat menonjolkan practical effect bukan pada spesial efek ala CGI yang lama-lama terasa membosankan.

Andalkan teror santet, Yunita Suegar dalam 'Kitab Sijjin dan Illyyin'
Andalkan teror santet, Yunita Suegar dalam 'Kitab Sijjin dan Illyyin' (dok Rapi Films)

"Sejak awal saya memang ingin film ini terasa emosional jadi tidak cuma mengandalkan kekuatan visual. Tantangan dalam membuat film adalah bagaimana membuatnya berbeda, lebih lokal, dan membumi. Selain itu, bagaimana membuat adegan-adegan horor yang intens, membuat ngilu dengan treatment sinematografi yang tak banyak pergerakan tapi bisa menimbulkan kengerian saat menonton," ungkap Hadrah. 

Yunita Siregar yang terakhir mencuat namanya berkat film drama remaja Home Sweet Loan (Sabrina Rochelle,2024) menyampaikan rasa senangnya bisa berperan di film Kitab Sijjin & Illiyyin. “Memerankan karakter Yuli yang sangat kompleks, yaitu orang baik yang menjadi kejam sebenarnya film ini bisa memberi pesan positif dan menjadi pengingat untuk selalu berbuat baik dalam hidup,” ungkapnya.**

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Donny Anggoro

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X