temu-paran

Kampanye Pariwisata Toba Berbalut Komedi Romantis

Kamis, 11 Juli 2024 | 14:18 WIB
Official poster Harta Tahta Boru Ni Raja (PIM Pictures)

TINEMU.COM- Mengangkat lokalitas budaya setempat belum lama ini untuk film layar lebar Indonesia mulai muncul. Sebut saja dari budaya Jawa ada Yo Wis Ben,Sekawan Limo, Srimulat Hidup Memang Komedi,dll. Dari Papua ada Indonesia dari Timur persembahan Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen, sedangkan dari NTT ada Women from Rote Island yang menjadi film terbaik Piala Citra 2023. Dari Batak sendiri ada Ngeri Ngeri Sedap, Induk Gajah (TV series tayang di Prime Video), dan sedikit muncul dalam film komedi box office Agak Laen. 

Hadirnya film Harta, Tahta, Boru Ni Raja tentu memberi harapan mulai bermunculan film yang tidak melulu setting atau permasalahanya di Jakarta atau pulau Jawa saja. Mengisahkan mahasiswa Jerry Tan (Panjaitan) yang judul skripsinya selalu ditolak dosen, tertinggal oleh 3 sahabatnya Elin, Aliya dan Hendro yang lulus lebih dulu. Judul skripsinya akhirnya diterima ketika ia mengusulkan tokoh Nasional D.I Panjaitan. Untuk keperluan riset, Jerry pergi ke kampung halamannya ke Balige untuk pertama kali bersama ketiga sahabatnya. Berbagai kejadian hingga masalah cinta akhirnya terjadi di Balige.  

Film karya sutradara Agustinus Sitorus ini dibintangi Mark Natama (Indonesian Idol 2021), Novia Situmeang (Indonesian Idol 2023), Frisily Herlind, Fadlan Holao, Fahira Almira, Jenda Munthe, Tabita Christabela Napitupulu (finalis Putri Indonesia Sumut 2023), Diknal Sitorus, Wahyu Dito, Galih Indharto, Nelson Lumbantoruan, dan Catherine Panjaitan.  

Baca Juga: Anggun Siapkan Konser Tunggalnya di Jakarta 

Tentu dengan beredarnya film ini ada harapan di benak penonton kisah memikat atau komedi segar yang kuat lokalitas budayanya. Nyatanya tidak. Film dengan durasi 1 jam 54 menit ini cenderung melelahkan, tanpa pijakan cerita yang kuat dan semuanya serba tanggung. Bahkan di beberapa adegan, kampanye pariwisata di daerah Batak dalam film ini terlalu gamblang. Karena cerita yang relatif datar saja, film yang bermaksud komedi ringan dan memainkan masalah percintaan ini terasa bertele-tele. Pemilihan cast yang agak menyelamatkan adanya komedian tenar lewat media sosial, Jenda Munthe- sedangkan sisanya tak mampu berbuat apapun walau sesekali melontarkan celetukan. 

Cast dan kru Harta Tahta Boru ni Raja (foto Hero Tirtana-DoRo Conspiracy)

Padahal untuk film dengan maksud "kampanye pariwisata" sangat banyak yang bisa dicontoh. Sebutlah dari mancanegara ada film suspens thriller Amsterdamned atau Under Paris yang masih tayang di Netflix, Notting Hill (komedi) kemudian dari negeri sendiri ada Losmen Bu Broto, bahkan Ngeri Ngeri Sedap yang juga mengangkat lokalitas Batak. Tak bisa dipungkiri cerita yang kuat tetap menjadi pondasi, meskipun ada misi lain dari karya film misalnya edukasi ke masyarakat atau kampanye pariwisata seperti film ini.

Dengan maksud mengenalkan talenta baru yaitu dua jebolan Indonesian Idol dan seorang finalis Putri Indonesia, film ini jadi terasa "sekedar apa adanya". Komedi roman nanggung dengan celaan-celaan yang terasa artifisial malah menjadikan film ini cenderung membosankan. Mungkin akan ada sanggahan ekspetasi penonton terlalu tinggi. Rasanya tidak juga. Bahkan jika di Indonesia sedang tidak marak film yang dengan sengaja mengangkat lokalitas budaya, film ini masih terasa "terlalu mewah" untuk tayang di bioskop. Berbekal kondisi yang ada, film ini baru bisa dimaklumi jika film Harta Tahta Boru Ni Raja hanya tayang di televisi atau streaming OTT saja.**          

Tags

Terkini