TINEMU.COM - Danni Sanders, seorang reporter di sebuah media online merasa hidupnya tak menarik. Danni yang merasa "bukan siapa-siapa" ngebet kepingin jadi "influencer", punya banyak followers,dan tentu saja segala macam privilege lainnya.
Danni berbohong mengikuti lokakarya penulisan di Paris. Padahal saat itu dia cuma rebahan di rumah sambil mengedit fotonya dengan pemandangan menara Eiffel lalu mengunggahnya di Instagram. Tak disangka, Paris diserang bom. Danni panik karena aslinya tak berada di Paris!
Danni justru berpura-pura sebagai salah satu penyintas bom Paris. Dia lalu tenar setelah menulis esai-personal yang menceritakan traumanya sebagai penyintas. Tulisannya viral dengan hastag #NotOkay.
Baca Juga: Lily Yulianti Farid dan Lahirnya Sastra Reboan
Lama kelamaan kebohongannya terbongkar. Danni dikecam warganet. Berhasilkah dia menyelamatkan nama baiknya atau justru terpuruk?
Film karya sutradara Quinn Shepperd ini cukup relevan untuk kita yang akrab dengan sosial media. Meski respon terhadap film ini tak terlalu bombastis, Quinn berhasil menjadi nominator naskah terbaik Independent Spirit Film Festival.
Apalagi Quinn yang lahir pada 1995 ini justru masuk ke industri film bermula sebagai aktris, dan karya ini termasuk debutnya sebagai sutradara/penulis cerita. Film ini menjadi istimewa karena dia ingin menyampaikan sesuatu dari generasinya apa adanya tapi tetap terasa asyik ditonton dan tak terasa menggurui.
Baca Juga: Usung Simbol Punokawan dan Pandawa, Hermawan Kartajaya akan Luncurkan Buku Marketing Terbaru
Memang topiknya mungkin tidak terlalu mencekam seperti "Don't Look Up" (2021) "Searching" (2017) atau yang tengah beredar "Missing" (2023). Tapi jika kita masih mengingat berita di negeri sendiri tentang mahasiswa yang kuliah di luar negeri, mengaku dilibatkan NASA-mengaku mendapatkan restu dari tokoh nasional di antaranya almarhum B. J Habibie juga seorang sineas muda yang mengaku ikut festival film internasional dan ternyata bodong- film ini masih terasa kontekstual.
Film ini semacam peringatan bagi kita semua: masihkah kamu haus validasi untuk keterkernalan yang nggak seberapa itu?**