Keris Asal Desa Aeng Tong-tong Jatim Bakal Jadi Suvenir Side Event G20

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Rabu, 25 Mei 2022 | 10:12 WIB
Menparekraf Sandiaga Uno akan menjadikan keris asal Desa Aeng Tong-tong, Madura, sebagai suvenir Side Event G20. (kemenparekraf.go.id)
Menparekraf Sandiaga Uno akan menjadikan keris asal Desa Aeng Tong-tong, Madura, sebagai suvenir Side Event G20. (kemenparekraf.go.id)

TINEMU.COM - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno akan menjadikan keris asal Desa Aeng Tong-tong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur (Jatim) sebagai suvenir Side Event G20.

Menparekraf Sandiaga menyampaikan rencana tersebut saat memulai visitasi ke 50 desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Desa Aeng Tong-tong menjadi desa wisata pertama yang dikunjungi Menparekraf Sandiaga, pada Selasa, 24 Mei 2022.

Pada 2014, Desa Aeng Tong-tong ini dinobatkan oleh UNESCO sebagai satu-satunya desa wisata dengan empu keris terbanyak di dunia.

Baca Juga: Siswa SD No. 2 Tanjung Benoa Ikuti Latihan Simulasi Evakuasi Mandiri Gempabumi dan Tsunami

Menparekraf Sandiaga menyampaikan kekagumannya atas potensi Desa Wisata Aeng Tong-tong yang luar biasa. Potensi ini tidak lepas dari jejak sejarah yang membekas pada produk kriya tersebut.

Pasalnya keris telah hadir sejak abad ke-19 dan menjadi senjata pamungkas para prajurit kala itu. Hingga kini keris masih terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Aeng Tong-tong.

Menparekraf pun berencana menjadikan keris Desa Aeng Tong-tong sebagai suvenir delegasi yang hadir pada salah satu side event KTT G20. Namun dikarenakan keterbatasan waktu pembuatan, maka suvenir keris ini hanya dibuat sebanyak 20 buah untuk masing-masing negara.

Baca Juga: Kepala BMKG Dorong Komunitas Internasional Kolaborasi Bangun Sistem Peringatan Dini Handal

"Keris ini akan menjadi suvenir yang akan ditampilkan, salah satunya untuk perhelatan G20. Ini merupakan penghargaan kami kepada negerinya para empu," ujarnya.

Menparekraf telah berkoordinasi dengan Bupati, karena pembuatan keris ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Mungkin karena ada 20 negara jadi kita pesan 20 dulu untuk salah satu perhelatan G20. Tapi nanti mungkin disesuaikan supaya bisa dibawa sebagai suvenir yang tidak merepotkan dan memberatkan dan tidak dilarang ketika naik pesawat," kata Menparekraf.

Baca Juga: Opini Herman Syahara: Komidi Putar, antara Pesta Rakyat dan Gerak Roda Ekonomi

Pembuatan keris memang memakan waktu cukup lama, antara satu hingga enam bulan untuk satu keris, tergantung dari ukuran dan motif yang dibentuk. Untuk panjang keris di Pulau Madura normalnya antara 37 - 38 cm.

Prosesnya mulai dari pemilihan besi, penempaan, pembentukan bilah, kinatah (ukir besi jika keris ukir), warangka (pembuatan sarung keris yang terbuat dari kayu), terakhir mewarangi atau campuran cairan arsenikum dengan air jeruk nipis yang dioleskan atau dicelupkan ke keris.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: kemenparekraf.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X