Desa Wisata Bilebante, Awalnya Tambang Pasir Jadi Kawasan Pelesir

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 18 Maret 2022 | 14:23 WIB
Salah satu destinasi wisata di Desa Bilebante. (jadesta.kemenparekraf.go.id)
Salah satu destinasi wisata di Desa Bilebante. (jadesta.kemenparekraf.go.id)

TINEMU.COM - Desa Bilebante merupakan satu dari 61 desa wisata di Lombok Tengah yang bisa menjadi destinasi wisata para penonton Pertamina Grand Prix of Indonesia pada 18-20 Maret 2022.

Desa Bilebante terletak di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jaraknya sekitar 16 km dari pusat kota Mataram. Jika dari Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Praya, jaraknya sekitar 24 km.

Semilir angin dan pemandangan hijaunya alam mampu menangkal cuaca panas Pulau Lombok. Keasrian alam berasal dari hijaunya padi di 212 hektare (ha) lahan persawahan dan 87 ha kebun sejauh mata memandang menjadi alasan tersematnya identitas Bilebante sebagai desa hijau.

Baca Juga: Battle in Style, Kolaborasi Garena Free Fire dengan Isyana Sarasvati

Melansir dari laman Indonesia.go.id, Desa asri ini berpenduduk sekitar 6 ribu jiwa dengan mayoritas beragama Islam dan ratusan lainnya penganut Hindu. Awalnya, desa ini lebih dikenal sebagai kawasan penambangan pasir, sumber pendapatan warga selain bertani.

Bahkan dahulu, nyaris tak ada yang dapat dibanggakan dari desa ini. Hal itu diungkapkan Ketua Kelompok Sadar Wisata Bilebante, Pahrul Azim, yang juga menjabat Direktur Desa Wisata Hijau Bilebante.

"Di desa kami hanya ada sawah, petani, dan bebek. Tidak ada bayangan bahwa tempat ini bakal menjadi desa wisata utama di Lombok. Apalagi banyak dari warga desa kami memilih sebagai pekerja migran Indonesia (PMI)," kata Pahrul dalam bincang virtual Karya Kreatif Indonesia yang digelar Kemenparekraf beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Kisah Sufi : Tak Semua Laku Kehidupan Bisa Dijelaskan

Mereka mendapat pelatihan dari Gesellschaft fur Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melalui kerja sama Indonesia-Jerman dan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappenas) pada 4 April 2015. Lewat pelatihan itu, pemahamannya terhadap desa wisata perlahan berubah.

Ternyata, desa wisata adalah bagaimana segenap lapisan masyarakatnya mampu menjaga keaslian suasana kehidupan desa mereka dan menghadirkan sebuah pengalaman berbeda bagi orang luar desa.

Gowes Keliling Desa yang Viral

Pada 2017 lembaga sosiopreneur Institute of Social Economic Digital (ISED) menggelar pelatihan literasi pengelolaan keuangan bagi ibu-ibu rumah tangga. Pahrul dan masyarakat Desa Bilebante bersepakat untuk mengembangkan potensi di desa mereka menjadi objek wisata.

Baca Juga: Dialog Gus Baha dan Eks Teroris: Jangan Rebut Teritori Allah

Wisata bersepeda keliling desa menjadi awal percontohan. Mulai dari depan Kantor Sekretariat Desa Wisata Bilebante, melintasi permukiman warga dan lanjut melewati jalan setapak yang membelah hamparan sawah. Lalu singgah ke kawasan masyarakat Hindu untuk belajar budaya mereka.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: Indonesia.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X