TINEMU.COM - Pengelola Desa Wisata Sungai Kupah di Kabupaten Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) mengembangkan wisata mangrove berbasis masyarakat. Selain wisata mangrove, Desa Wisata Sungai Kupah memiliki berbagai potensi, seperti wisata susur sungai.
Desa wisata Sungai Kupah berada di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Terletak di penghujung hulu Sungai Kapuas, sedangkan hilir berada tepat di Selat Karimata yang berbatasan dengan Laut Natuna dan melewati garis khatulistiwa.
Selain wisata mangrove, wisatawan bisa melakukan susur sungai dengan menyusuri aliran sungai terakhir dari Sungai Kapuas yang melewati Desa Sungai Kupah.
Baca Juga: AyoConnect Gandeng BRI untuk Garap OpenBanking
Saat susur sungai, wisatawan bisa melihat langsung spesies monyet langka yang sudah hampir punah. Seperti monyet bekantan, monyet ekor panjang, juga lutung. Selain itu ada pula spesies Burung Raja Udang dan Burung Elang.
Desa wisata ini juga memiliki paket wisata Kampung Nelayan. Wisatawan dapat menikmati nuansa kampung nelayan yang asri dengan keseharian masyarakat bertransaksi jual beli ikan segar.
Selain potensi wisata berbasis alam, Desa Wisata Sungai Kupah juga memiliki ragam potensi seni. Misalnya tari mangrove yang menggambarkan lingkungan mangrove yang saat ini kondisinya kerap dikelilingi oleh sampah kiriman dari muara Sungai Kapuas.
Baca Juga: Lantik Kepala dan Wakil Kepala IKN, Presiden: Pilihan dan Kombinasi yang Baik
Tarian ini juga memperlihatkan usaha masyarakat yang mengikat dan membersihkan sampah-sampah, sebagai upaya menjaga dan melestarikan kawasan hutan mangrove.
Selain itu ada juga Tundang (pantun dendang), seni yang disampaikan lewat lisan dalam bentuk pantun diiringi dengan gendang. Kesenian tundang pada dasarnya memang harus menggunakan alat musik tradisional dan diiramakan menjadi sebuah lirik lagu atau syair yang disesuaikan dengan keadaan ataupun suasana sekitar.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi pengembangan ekowisata tersebut.
Baca Juga: Keren! Empat Perempuan Peneliti BRIN Dikukuhkan Sebagai Profesor Riset
Selain memberi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, hal ini juga sejalan dengan tren pariwisata baru yang berkualitas dan berkelanjutan sehingga akan maksimal dalam memperkuat peluang kebangkitan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja.
Menparekraf Sandiaga saat visitasi sekaligus mempromosikan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 ke Desa wisata Sungai Kupah, Rabu, 9 Maret 2022 menjelaskan, saat ini lembaga dunia banyak yang tertuju terhadap gerakan-gerakanan penanaman mangrove untuk membantu ekosistem dan keberlanjutan lingkungan.
Momentum ini tidak boleh dilewatkan Desa Wisata Sungai Kupah untuk memperkuat dan mengembangkan ekowisata mangrove agar lebih dikenal dunia. Wisatawan yang datang selain dapat menyusuri hutan mangrove, juga dapat berfoto di gazebo. Menikmati kuliner di pondok gazebo hingga menikmati matahari terbenam.
Artikel Terkait
Yuk Menginap di Torosiaje, Desa di Atas Laut
Keindahan Desa Tetebatu yang Mendunia Bisa Jadi Inspirasi Pengembangan Desa Wisata
Naik Balon Udara di Subang, Nikmati Wisata Ala Cappadocia
Gasblock, Ikon Terkini Desa Energi di Balkondes PGN Karangrejo
Indonesia Wellness and Health Tourism Expo 2022, Bangkitkan Wisata Kesehatan dan Kebugaran