Di kawasan ini, wisatawan bisa mampir ke Pura Lingsar Kelod, tempat ibadat umat Hindu tertua di Lombok Tengah yang berdiri sejak 1822. Wisatawan juga akan disuguhi musik tradisional bale ganjur dari masyarakat Bilebante beragama Hindu.
Jenis wisata gowes sepeda ini sempat viral beberapa waktu lalu dan begitu diminati warga lokal Lombok, turis Nusantara serta asing.
Baca Juga: Opini; Katakan dengan Logo, dari yang Halal sampai yang Politis
Bekas Galian Pasir Jadi Pasar Pancingan
Setelah gowes sepeda, Pokdarwis Bilebante bersama komunitas anak-anak muda Generasi Pesona Indonesia (Genpi) membangun atraksi baru yang menarik wisatawan. Terciptalah Pasar Pancingan yang beroperasi tiap hari Minggu mulai jam 7 pagi hinga 14.00 Wita.
Modelnya meniru pasar pekan yang masih dapat dijumpai di sejumlah desa di di Lombok. Lapak berjualannya pun dibuat dari bilah-bilah bambu dan alang-alang dan para penjualnya berpakaian khas Sasak, suku asli Pulau Lombok.
Bedanya, di Pasar Pancingan wisatawan bisa memancing di kolam pemancingan dari bekas lubang galian pasir sambil menikmati hiburan rakyat dan pertunjukan musik D'Gong Gress.
Baca Juga: Film The Bar, Komedi Manusia yang Getir dan Kompleks
Wisatawan juga bisa mencicipi lebih dari 30 kuliner khas masyarakat Sasak seperti ayam merangkat, ebatan atau salad, clorot atau dodol Lombok, plecing kangkung, dan ayam taliwang.
Wadah tempat makan menggunakan daun pisang dan alat transaksinya memakai uang kepeng. Harga kuliner yang ditawarkan sangat bersahabat. Jika pengunjung ingin bertransaksi, harus menukar uang di tempat penukaran uang.
Sebelum pandemi menerjang, pasar ini dikunjungi oleh sedikitnya 800 orang, umumnya warga seputar Lombok dan turis Nusantara.
Baca Juga: Kenang Perjuangan Dokter Selama Pandemi, IDI Bangun Monumen Pengabdian
Terapi Kebugaran di Kebun Herbal
Bilebante juga memiliki Kebun Herbal seluas 400 meter persegi dengan 200 jenis tanaman obat yang yang dibangun oleh Martha Tilaar Group.
Kebun Herbal ini berhasil mengembangkan minuman sejenis jamu bernama lemongrass tea atau serbat dalam bahasa lokal. Bahan dasarnya sereh, secang, kunyit dipadu gula pasir dan gula aren.
Artikel Terkait
Inilah 5 Desa Wisata Rekomendasi Mas Menteri Sandiaga Uno yang Patut Dikunjungi
Keindahan Desa Tetebatu yang Mendunia Bisa Jadi Inspirasi Pengembangan Desa Wisata
Menikmati Wisata Mangrove di Desa Sungai Kupah
Wisata di Waturaka, Tak Sekadar Jadi Orang Desa Di Dekat Danau Tiga Warna
Potensi Wisata Bahari dan Wisata Tepi Sungai di Desa Sendang Pacitan