TINEMU.COM - “Bagus, keluarkanlah pedangmu !” bentak Yang Thian-lui dan mendadak ia terus menghantam dengan tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat tanpa menunggu lawannya melolos pedang lebih dulu.
Ternyata Beng Siau-kang sengaja tidak mau melolos pedangnya, sebab ia memang ingin mencoba betapa hebatnya tenaga pukulan Yang Thian-lui.
Segera ia sambut pukulan lawan, kedua tangan beradu, terdengar suara ‘Blang” yang keras.
Yang Thian-lui tergeliat, sedangkan Beng Siau-kang tergetar mundur dua tindak. Diam-diam Beng Siau-kang mengakui kehebatan Yang Thian-lui yang memang tidak bernama kosong, tanpa senjata mungkin sukar mengalahkannya.
Baca Juga: Kehadiran Kereta Cepat Whoosh Dongkrak Kunjungan Wisatawan ke Bandung
Ia tidak tahu bahwa Yang Thian-lui jauh lebih terkejut daripada dia. Maklumlah, ilmu silat masing-masing mempunyai kekhususannya masing-masing, Beng Siau-kang tersohor karena ilmu pedangnya yang sakti dan bukan terkenal dengan ilmu pukulan.
Tapi dia sanggup menyambut tenaga pukulan Yang Thian-lui tadi, tampaknya rada kewalahan, tapi nyatanya tidak sampai roboh, padahal ilmu pukulan bukan menjadi andalannya.
Maka dapat pula dibayangkan betapa lihai ilmu pedang yang menjadi kemahirannya itu.
“Beng-tayhiap, terhadap musuh tidak perlu sungkan-sungkan.” Teriak Su-lam.
Dalam pada itu Yang Thian-lui masih berlagak dan berseru pula, “Beng Siau-kang, kenapa kau masih tidak melolos pedangmu? Kau berani memandang rendah padaku?”
Baca Juga: Bahasa Jawa Relatif Rentan, Balai Bahasa Jateng Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu
“Haha, memang tidak salah, aku memang memandang rendah padamu,” sahut Beng Siau-kang.
“Memangnya kau kira dengan Thian-lui-kangmu lantas dapat malang melintang di dunia ini? Hehe, bolehlah kau coba-coba ilmu pedangku ini bila memang kau kehendaki!”
Sekali pedangnya berkelebat seketika berjangkitlah angin keras.
“Awas!” seru Beng Siau-kang sambil menusuk. Yang Thian-lui juga lantas menghantam dari jauh, terdengarlah suara mendengung tak berhenti, kiranya ujung pedang Beng Siau-kang yang menerbitkan suara mendengung itu lantaran tergetar oleh angin pukulan lawan.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (257)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (258)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (259)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (260)