Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (265)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Sabtu, 2 Desember 2023 | 09:00 WIB
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Ilustrasi Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

TINEMU.COM - “Bagus, keluarkanlah pedangmu !” bentak Yang Thian-lui dan mendadak ia terus menghantam dengan tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat tanpa menunggu lawannya melolos pedang lebih dulu.

Ternyata Beng Siau-kang sengaja tidak mau melolos pedangnya, sebab ia memang ingin mencoba betapa hebatnya tenaga pukulan Yang Thian-lui.

Segera ia sambut pukulan lawan, kedua tangan beradu, terdengar suara ‘Blang” yang keras.

Yang Thian-lui tergeliat, sedangkan Beng Siau-kang tergetar mundur dua tindak. Diam-diam Beng Siau-kang mengakui kehebatan Yang Thian-lui yang memang tidak bernama kosong, tanpa senjata mungkin sukar mengalahkannya.

Baca Juga: Kehadiran Kereta Cepat Whoosh Dongkrak Kunjungan Wisatawan ke Bandung

Ia tidak tahu bahwa Yang Thian-lui jauh lebih terkejut daripada dia. Maklumlah, ilmu silat masing-masing mempunyai kekhususannya masing-masing, Beng Siau-kang tersohor karena ilmu pedangnya yang sakti dan bukan terkenal dengan ilmu pukulan.

Tapi dia sanggup menyambut tenaga pukulan Yang Thian-lui tadi, tampaknya rada kewalahan, tapi nyatanya tidak sampai roboh, padahal ilmu pukulan bukan menjadi andalannya.

Maka dapat pula dibayangkan betapa lihai ilmu pedang yang menjadi kemahirannya itu.

“Beng-tayhiap, terhadap musuh tidak perlu sungkan-sungkan.” Teriak Su-lam.

Dalam pada itu Yang Thian-lui masih berlagak dan berseru pula, “Beng Siau-kang, kenapa kau masih tidak melolos pedangmu? Kau berani memandang rendah padaku?”

Baca Juga: Bahasa Jawa Relatif Rentan, Balai Bahasa Jateng Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu

“Haha, memang tidak salah, aku memang memandang rendah padamu,” sahut Beng Siau-kang.

“Memangnya kau kira dengan Thian-lui-kangmu lantas dapat malang melintang di dunia ini? Hehe, bolehlah kau coba-coba ilmu pedangku ini bila memang kau kehendaki!”

Sekali pedangnya berkelebat seketika berjangkitlah angin keras.

“Awas!” seru Beng Siau-kang sambil menusuk. Yang Thian-lui juga lantas menghantam dari jauh, terdengarlah suara mendengung tak berhenti, kiranya ujung pedang Beng Siau-kang yang menerbitkan suara mendengung itu lantaran tergetar oleh angin pukulan lawan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X