TINEMU.COM - Pada saat Yang Thian-lui dan Pek Ban-hiong ketemukan tandingnya masing-masing, yang tertinggal hanya Pek Jian-seng saja yang masih dapat melindungi Sia It-tiong.
Maka Nyo Wan yakin sakit hatinya pasti akan terbalas, dengan girang ia terus menerjang ke dalam rumah sambil membentak, “Bangsat she Sia, sekali ini kau tak kan bisa lari lagi!”
Sia It-tiong menjadi ketakutan, ia berseru, “Tolong aku, Pek-kongcu, budimu pasti akan kubalas dengan kedudukan baik di dalam pasukan Mongol.”
“Jangan khawatir, Sia-tayjin, akan kubekuk budak itu bagimu,” sahut Pek Jian-seng.
Potongan Nyo Wan memang mirip perempuan yang lemah, maka Pek Jian-seng yakin pasti dapat mengalahkannya. Tak terduga ilmu pedang Nyo Wan ternyata cukup lihai, hanya bergebrak beberapa jurus saja Pek Jian-seng sendiri sudah kewalahan.
Baca Juga: The Dharma Bums: Perjalanan Fisik dan Spiritual Mencari Makna Hidup
Tatkala itu partai Yang Thian-lui melawan Beng Siau-kang juga sudah mulai kelihatan siapa yang lebih unggul. Yang Thian-lui telah mengeluarkan segenap tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat sehingga menimbulkan angin yang menderu-deru, batu pasir beterbangan, pepohonan di dalam pekarangan ikut terguncang dan berderak.
Tapi Beng Siau-kang tegak berdiri di tengah damparan tenaga pukulan lawan yang dahsyat itu, sedikitpun tidak bergeming.
Di tengah pertarungan sengit itu mendadak Beng Siau-kang membentak, “Kiranya kau punya Thian-lui-kang tidak lebih cuma sekian saja, sudah cukup sekarang!”
Sekali ilmu pedangnya berubah, dari bertahan segera ia balas menyerang.
Seketika sinar pedang bertaburan menyilaukan pandangan Yang Thian-lui dan terpaksa harus melangkah mundur beberapa tindak. Unggul dan kalah sudah mulai tertampak, tapi untuk menang dalam waktu singkat juga tidak mudah bagi Beng Siau-kang.
Baca Juga: Roro Jonggrang Nan Lentik di Pentas Teater Koma
Betapapun Yang Thian-lui juga seorang jago kelas wahid, bicara tentang keuletan terang tidak di bawah Beng Siau-kang. Maka setelah terdesak mundur, segera ia pun balas menghantam beberapa kali dari jauh, dari terdesak ia masih sanggup bertahan dengan rapat.
Yang Thian-lui sendiri menyadari bila pertandingan berlangsung terus dirinya pun pasti akan kalah. Ia coba melirik ke samping, dilihatnya keadaan Pek Ban-hiong tiada ubahnya seperti dirinya, keadaannya juga payah dan terdesak.
Keruan Yang Thian-lui mulai keder, sebaliknya Beng Siau-kang putar pedangnya semakin kencang, makin lama makin bersemangat.
Artikel Terkait
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (257)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (258)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (259)
Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (260)