Menurutnya, melalui karya WB.RyT, Garasi Performance Institute ingin membuka percakapan tentang watak dan artikulasi duka ekologis, serta menjadi pemantik praktik nyata apa yang dapat dilakukan agar tragedi dalam karya tidak akan terjadi.
Baca Juga: Anika Gauja: Partisipasi Politik Pemuda Bukan Hanya Soal Hak Pilih
“Dalam meluaskan dan mendekati secara kritis percakapan tentang tema duka ekologis, Teater Garasi menggarap ulang WB.RyT tahun ini dengan menajamkan sisi kesilang-mediaan antara teater dengan video game, sinematografi, dan menguatkan unsur-unsur visual dan tata Cahaya,” ungkap Yudi.
Selain karya WB.RyT, Yudi juga pernah menyutradarai pertunjukan lainnya dengan judul “Setelah Lewat Djam Malam”. Melalui penyutradaraan karya tersebut, Yudi berhasil meraih penghargaan Karya Seni Pertunjukan Pilihan Tempo tahun 2022.
WB.RyT merupakan versi terkini dari proyek panjang Waktu Batu yang dimulai sejak tahun 2001. Sepanjang tahun 2002-2006 WB.RyT telah melahirkan beberapa versi pertunjukannya yang dipentaskan di beberapa kota di Indonesia, Singapura, Berlin, dan Tokyo.
Baca Juga: Richard Niemi: Partisipasi Politik Pemuda adalah Tanggung Jawab dalam Demokrasi
Pada 2022, pentas WB.RyT juga telah ditampilkan pada Indonesia Bertutur 2022 dan kemudian pada tahun ini telah dipentaskan kembali di ARTJOG Yogyakarta dan Djakarta International Theatre Platform, Jakarta.***
Artikel Terkait
Pertunjukan SIKAP, Kolaborasi Tari Kontemporer Indonesia-Prancis
FKSM 2022 ‘Medi(t)asi Ritus/Rute’ Tampilkan 15 Komunitas Seni Media dan Pertunjukan
Angkat Isu Perdamaian, Pertunjukan Teatrikal Bongaya Awali Festival Budayaw IV
Pertunjukan Kolosal Perkusi Kureta Mandaki Meriahkan Galanggang Arang #7 Kayutanam
Berbagi Pengalaman Asia di Simposium Internasional Seni Pertunjukan