Pertunjukan Kolosal Perkusi Kureta Mandaki Meriahkan Galanggang Arang #7 Kayutanam

photo author
Setiyo Bardono, Tinemu
- Jumat, 1 Desember 2023 | 11:00 WIB
Penampilan kolosal Perkusi Kureta Mandaki memeriahkan pembukaan Galanggang Arang #7 di Kayutanam.  (Instagram @gelanggangarang)
Penampilan kolosal Perkusi Kureta Mandaki memeriahkan pembukaan Galanggang Arang #7 di Kayutanam. (Instagram @gelanggangarang)

TINEMU.COM - Penampilan kolosal Perkusi Kureta Mandaki memeriahkan pembukaan Galanggang Arang #7 di Kayutanam pada Selasa, 28 November 2023. Ribuan masyarakat dari Padang Pariaman memenuhi lokasi pelaksanaan Galanggang Arang.

Penampilan kolosal Perkusi Kureta Mandaki dipersembahkan oleh 147 penabuh Gandang Tansa perwakilan 21 sanggar se-Kabupaten Padang Pariaman.

Mereka merupakan peserta lokakarya “Respon WTBOS Dalam Komposisi Musik Perkusi Kureta Mandaki” yang dilatih oleh Ribut Darak-Badarak, saat prapergelaran Galanggang Arang 27 November 2023.

Baca Juga: Dominasi Perolehan Medali, UGM Kembali Jadi Juara Umum PIMNAS 2023

Sanggar yang terlibat di antaranya adalah Grup Seni SMA 1 2x11 Kayutanam, Grup Seni JNS Kayutanam, SMK 1 2x11 Kayutanam, Lasuang Nagari Kasang, Sanggar Seni Rumah Gadang, Kandi Pasa Balai Nagari Parit Malintang, Surau Dadok Nagari Parit Malintang, Baniah Boneh Nagari Sungai Abang, Jambak Mekar Nagari Balah Hilai, Tiah Sepakat Nagari Balah Hilia, dan Grup Seni Kabun Berkat Yakin.

Sanggar lainnya yang terlibat yaitu Balito Nagari Balah Hilia, Tabek Indah Nagari Ketaping, Jaya Budaya Nagari Buayan, Carang Lubuak Alung, Sikabu Saiyo Nagari Sikabu, ABG Maimbau Nagari Lubuak Pandan, Serumpun Melativ Nagari Sungai Bulun, Bu Dewi Production Sicincin, Yayasan Museum Perang Sintuk, dan IPPKD Kampuang Koto Kec. Ulakan.

Penampilan ini merupakan pertunjukan dengan pemain Gandang Tansa terbanyak di Sumatra Barat. Uniknya lagi, mereka tampil di jalur rel kereta Stasiun Kayutanam dengan koreografi seperti kereta yang sedang melaju berselisih arah.

Baca Juga: Bahasa Jawa: Kongres dan Keluhan

Kurator Galanggang Arang, Mahatma Muhamad menyampaikan bahwa Kereta Mak Itam dan jalur kereta pada Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) ternyata telah lama menjadi inspirasi lahirnya komposisi musik Perkusi Kureta Mendaki.

“Pengetahuan tersebut dipelajari dan dimainkan selama puluhan tahun oleh banyak sanggar gandang tambua yang ada di Sumatra Barat,” ujar Mahatma Muhamad.

Menurutnya, bunyi benturan antara roda kereta api dan sambungan antar rel saat kereta menanjak menjadi dasar menghadirkan ritme yang sangat menarik untuk didengar. “Karya penciptaan itu lahir dari memori kolektif yang terbangun di masyarakat,” papar Mahatma.

Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (264)

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek, Irini Dewi Wanti, mengapresiasi keterlibatan aktif anak nagari Kayutanam sekaligus mengingatkan lagi soal WTBOS sebagai warisan anak nagari yang diakui dunia.

“Jadikan nilai-nilai universal pada WTBOS sebagai sumber inspirasi, tuangkan dalam berbagai jenis penciptaan karya seni budaya dan UMKM,” kata Irini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Setiyo Bardono

Sumber: kemdikbud.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X