Pembaca ditempatkan lagi di alam dengan kesadaran terang dan samar. Di Bumi, sekian hal bisa dimengerti meski ada hal-hal sulit dan mustahil dimengerti berakibat kita gagal dalam pemaknaan sampai hakikat.
Gus Mus menulis: Bumi bingung mencari-cari/ Matahari siang hari// Burung-burung/ Dikerahkan mengintip mendung/ Gunung-gunung/ Diperintahkan mengirim sungai/ Melacak jejak sampai/ Ke laut dan telaga. Kita mengarahkan pandangan ke matahari.
Baca Juga: Berdering dan Kesepian
Para pembaca kitab suci mafhum mengenai peran matahari dalam lakon semesta. Tuhan memberi penjelasan dan ibarat tentang matahari saat manusia ingin berpijak iman atau menumbuhkan ilmu.
Matahari itu “terpenting” tapi penghuni Bumi justru sering membuat “rusak” dan terlalu terpuruk saat tak lagi mendapat faedah-faedah matahari.
Dua puisi dari pengarang itu memang tak gamblang berdakwah. Para pembaca dengan ketenangan saat merenung perlahan mengerti puisi-puisi setara dengan isi khotbah menghindarkan kejemuan.
Pada bulan suci, ikhtiar membaca puisi-puisi merujuk alam malah memberi tuntutan di pendalaman iman dan keinsafan hamba.
Baca Juga: Stafsus Bidang Ekonomi Kreatif Dorong Sinergi Lembaga untuk Perlindungan Pekerja Kreatif
Sajian alam dalam puisi itu kepekaan pengarang untuk mengajak pembaca mengerti ungkapan-ungkapan menggerakkan dan mengejawantahkan iman ketimbang diksi-diksi lugas atau basi.
Di keseharian, Zawawi Imron dan Gus Mus menjadi panutan bagi orang-orang ingin terus beriman dan sanggup membaca alam. Hari-hari dalam ibadah Ramadhan, usaha menikmati puisi mirip memenuhi panggilan dalam renungan-renungan sederhana “mengimbuhi” khotbah-khotbah di tempat ibadah.
Puisi persembahan Zawawi Imron dan Gus Mus menjadi suguhan menggenapi menu sahur dan buka agar kita mengetahui santapan-santapan batin. Puisi-puisi mungkin merasuk dan memberi peningkatan derajat iman. Begitu.**
Artikel Terkait
Digitalisasi Naskah Lontar, Upaya Selamatkan Warisan Budaya yang Rentan Alami Kerusakan
Peneliti BRIN Kaji Cerita Lisan di Alor dan Toleransi Beragama di Era Majapahit
Berdering dan Kesepian